Pesan Moral Purnabakti RRI: Junjung Tinggi Integritas & Profesionalisme Kerja

  • 17 Sep 2026 21:28 WIB
  •  Ambon

RRI.CO.ID, Ambon – Menjalani masa purnabakti setelah puluhan tahun mengabdi di Radio Republik Indonesia (RRI), Martinus Tuanakotta memberikan pesan moral serta motivasi mendalam bagi para angkasawan dan angkasawati RRI generasi penerus. Mantan Kepala RRI Tual dan RRI Nabire ini menekankan pentingnya integritas serta profesionalisme dalam bekerja.

"Yang perlu disampaikan adalah bagaimana menjalankan tugas yang sebenarnya, sehingga proses di dalam melaksanakan tugas itu semua bisa berjalan dengan baik," ujar Martinus saat berbagi pengalamannya.

Sosok yang dikenal tegas dan disiplin dalam bekerja ini, menceritakan kenangan masa kerjanya yang diawali sejak November 1972. Saat bincang-bincang bersama di sela kegiatan Pencanangan HUT ke-81 RRI, Ia menceritakan rekam jejak panjangnya di media publik ini. Mengawali tugas di bagian keuangan RRI Ambon, Martinus kemudian diperbantukan dalam penanganan Proyek Televisi Maluku pada tahun 1978 hingga 1995.

Dedikasi dan keahliannya dalam pengelolaan proyek membawa Martinus dipercaya menangani berbagai pembangunan infrastruktur penyiaran di kawasan timur Indonesia. Di antaranya mencakup proyek penyiaran di Tual, Saumlaki, Dobo, TVRI Larat, hingga Sanana.

Memasuki tahun 1999, ia dipercaya menduduki jabatan struktural hingga akhirnya dilantik menjadi Kepala RRI Tual pada tahun 2000. Tak lama berselang, pada periode 2000–2001, ia mengemban amanah sebagai Kepala RRI Nabire hingga mengakhiri pengabdiannya dan memasuki masa purnabakti pada tahun 2005.

Selama lebih dari tiga dekade bertugas, Martinus mengaku banyak dinamika dan suka duka yang dilaluinya. Salah satu kenangan tak terlupakan saat menjabat sebagai Kepala RRI Nabire adalah ketika bencana gempa bumi dahsyat mengguncang daerah tersebut sekitar tahun 2004.

"Peristiwa gempa yang terjadi di Nabire memang cukup mengguncangkan. Yang menjadi persoalan utama saat itu adalah krisis air bersih, karena pasokan air harus diambil dari jarak sekitar 200 km dari kota akibat sumur bor tidak berfungsi. Kondisi itu menjadi ujian berat bagi masyarakat dan pelayanan penyiaran di sana," katanya sambil mengenang masa lalunya.

Selain memberikan motivasi kerja, Martinus juga memberikan pandangan kritis terhadap transformasi era penyiaran saat ini. Ia menyoroti pergeseran teknologi penyiaran di mana RRI kini semakin masif memanfaatkan kanal komunikasi digital.

"Masalah yang sekarang ini, kalau kita lihat, RRI tidak lagi hanya berjalan dengan pemancar-pemancar fisik seperti dulu, tetapi sudah melalui jaringan alat komunikasi modern lainnya. Kami berharap RRI terus mempertahankan eksistensinya dan berdiri mandiri dalam menyampaikan informasi kepada masyarakat," ucapnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....