Menjaga Identitas Budaya Lagu Ambon Menghadapi Gempuran AI

  • 22 Jul 2026 05:28 WIB
  •  Ambon

RRI.CO.ID, Ambon - Berawal dari mendengarkan beberapa lagu Ambon yang dibuat menggunakan AI, terasa bahwa melodi dasar lagu-lagu tradisional menjadi hilang digantikan dengan melodi baru walaupun menggunakan lirik yang asli dari lagu lama tersebut yang sudah membudaya di telinga.

Direktur Ambon Music Office (AMO) Ronny Loppies mengatakan, perkembangan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence / AI) dewasa ini bergerak dengan kecepatan yang luar biasa. Berbagai inovasi hadir untuk mempermudah hidup, memperkaya kreativitas, hingga merekonstruksi karya seni.

Namun, di balik berbagai kemudahan tersebut, muncul sebuah fenomena yang kian mengkhawatirkan: praktik mengubah, menggubah, atau memodifikasi melodi asli lagu-lagu tradisional dan daerah menggunakan fitur-fitur AI secara serampangan.

Loppies mengatakan, mengubah melodi asli lagu daerah atau karya-karya klasik warisan budaya demi tren semata bukanlah bentuk kemajuan seni, melainkan sebuah ancaman nyata yang perlahan menggerus akar budaya kita.

▪︎ Mengapa mengubah melodi asli Lewat AI berbahaya?

Loppies mengatakan karena menghilangkan Autentisitas dan Nilai Sejarah

Lagu daerah dan karya tradisional bukan sekadar rangkaian nada, melainkan arsip hidup yang merekam sejarah, filosofi, dan identitas masyarakat penciptanya.

"Setiap lenggokan nada dan tempo memiliki makna sakral yang dibangun dari kearifan lokal turun-temurun," ujarnya.

▪︎ Merusak Memori Kolektif Masyarakat

Melodi asli adalah identitas yang menyatukan generasi demi generasi. Ketika melodi tersebut diubah secara radikal oleh algoritma AI tanpa pemahaman kultural, ikatan emosional dan memori kolektif masyarakat terhadap lagu tersebut akan kabur.

▪︎ Menggeser Etika Berkarya dan Penghargaan pada Leluhur.

Kreativitas memang tanpa batas, tetapi kebebasan berekspresi seharusnya tetap menjunjung tinggi etika dan rasa hormat (respect) terhadap karya cipta leluhur. Mengganti esensi dasar sebuah lagu demi konten viral sama saja dengan mengabaikan keringat dan nilai spiritual para pencipta aslinya.

Loppies mengajak untuk bersama-sama mengambil sikap tegas demi melindungi warisan budaya bangsa dari disrupsi teknologi yang kebablasan:

  • Bijak Menggunakan Teknologi
    Manfaatkan kecerdasan buatan untuk hal-hal yang bersifat produktif dan mendukung pelestarian seperti merapikan arsip suara lama, merestorasi kualitas audio yang rusak, atau mengenalkan lagu asli ke kancah global bukan untuk mengubah esensi dan merusak keaslian melodinya.
  • Hentikan Tren Modifikasi yang Menghilangkan Identitas
    Bagi para kreator konten dan pegiat media sosial, mari berhenti mempopulerkan aransemen AI yang mengubah total melodi dasar lagu-lagu tradisional demi mengejar algoritma atau kepopuleran sesaat.
  • Perkuat Edukasi Budaya Sejak Dini
    Generasi muda harus terus didorong untuk mempelajari, menyanyikan, dan melestarikan lagu daerah dalam bentuk aslinya. Bangga pada budaya sendiri adalah benteng pertahanan terbaik di era digital.

"Teknologi boleh canggih, tetapi identitas dan jiwa bangsa tidak boleh ikut terprogram dan hilang oleh mesin." ujarnya.

Ia menekankan untuk menjaga marwah seni dan budaya kita. Hormati karya leluhur dengan tetap membiarkan melodi aslinya berkumandang sebagaimana mestinya terutama di Ambon City of Music.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....