Kematian Mahasiswa Unpatti, Dipicu Beban Mental dan Masalah Keluarga

  • 10 Mei 2026 15:49 WIB
  •  Ambon

RRI.CO.ID, Ambon - Suasana duka menyelimuti lingkungan mahasiswa di Kota Ambon setelah seorang mahasiswa Universitas Pattimura (Unpatti), Abraham Meute (18), ditemukan meninggal dunia di kamar kosnya di kawasan Lorong Pohon Mangga RT 04/RW 06, Desa Rumahtiga, Kecamatan Teluk Ambon, Sabtu (9/5/2026) malam.

Korban diketahui merupakan mahasiswa Fakultas Pertanian Program Studi Kehutanan Universitas Pattimura. Peristiwa tragis itu sontak mengejutkan warga sekitar dan rekan-rekan korban yang mengenalnya sebagai pribadi pendiam dan jarang menonjol di lingkungan tempat tinggalnya.

Berdasarkan keterangan pihak kepolisian, korban diduga meninggal akibat bunuh diri. Polisi menyebutkan, dari hasil pemeriksaan awal, Abraham diduga mengalami tekanan batin yang berkaitan dengan persoalan keluarga.

Kasi Humas Polresta Pulau Ambon dan P.P. Lease, Ipda Jenete S. Luhukay mengatakan, korban diketahui kecewa terhadap kondisi keluarganya, terutama setelah kedua orang tuanya bercerai.

“Masalah dengan orang tua. Dia kecewa karena orang tuanya bercerai,” ujar Ipda Jenete, Minggu (10/5/2026).

Penemuan jasad korban bermula ketika warga sekitar dan penghuni kos merasa curiga karena korban tidak terlihat beraktivitas seperti biasanya. Setelah dilakukan pengecekan, Abraham ditemukan sudah tidak bernyawa di dalam kamar kosnya.

Petugas kepolisian yang tiba di lokasi langsung melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) dan mengevakuasi jenazah korban. Setelah proses pemeriksaan, jenazah diserahkan kepada pihak keluarga untuk dibawa pulang dan dimakamkan di kampung halamannya di Taniwel, Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB).“Jenazah korban sudah diambil pihak keluarga,” kata Ipda Jenete.

Peristiwa ini kembali menjadi pengingat akan pentingnya perhatian terhadap kesehatan mental, khususnya di kalangan generasi muda dan mahasiswa yang sering menghadapi tekanan sosial maupun persoalan keluarga secara diam-diam.

Di tengah tuntutan pendidikan dan kehidupan perantauan, banyak anak muda memilih memendam persoalan pribadi tanpa ruang bercerita atau dukungan emosional yang memadai. Kondisi tersebut kerap membuat tekanan psikologis berkembang menjadi krisis yang sulit dikendalikan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....