JMP dan Fenomena "Suicide Landmark" di Media Sosial

  • 06 Mei 2026 18:11 WIB
  •  Ambon

RRI.CO.ID, Ambon – Belakangan ini, istilah JMP dan fenomena "Suicide Landmark" menjadi pembicaraan hangat dan viral di kalangan anak muda dan pengguna media sosial di Kota Ambon. Istilah ini merujuk pada tempat-tempat tertentu yang dianggap memiliki pemandangan indah namun berbahaya, yang kemudian dikaitkan dengan narasi atau tren bunuh diri serta ajakan untuk mengakhiri hidup.

Istilah JMP yang sering muncul di berbagai status WhatsApp, Instagram, dan TikTok, merupakan singkatan dari bahasa gaul yang bermakna ajakan untuk melakukan tindakan berbahaya atau mengakhiri hidup. Fenomena ini sangat mengkhawatirkan karena menyebar cepat melalui konten-konten yang terkesan "aesthetic" atau estetik, namun menyimpan pesan yang sangat berbahaya dan mematikan.

Tempat ikonik menjadi "Landmark" berbahaya, beberapa titik lokasi di Ambon yang sebenarnya merupakan tempat wisata atau spot foto favorit, kini tanpa sengaja atau sengaja dilabeli sebagai "Suicide Landmark". Tempat-tempat ini biasanya memiliki ketinggian, tebing, atau lokasi terpencil yang sulit dijangkau.

Yang mengkhawatirkan, narasi yang dibangun di media sosial sering kali menganggap tindakan tersebut sebagai sesuatu yang "romantis", "solusi dari masalah", atau tren yang harus diikuti. Hal ini sangat berbahaya karena dapat menormalisasi tindakan bunuh diri dan memicu efek peniruan (copycat effect) terutama di kalangan remaja yang sedang mengalami masalah emosional atau psikologis.

Pihak berwenang, tokoh masyarakat, serta komunitas peduli kesehatan mental mengimbau seluruh warga Ambon untuk tidak ikut menyebarluaskan istilah JMP maupun tagar atau konten yang berkaitan dengan "Suicide Landmark".

Menyebarkan informasi tersebut bukan hanya tidak etis, tetapi juga dapat dikategorikan sebagai tindakan yang memprovokasi atau memengaruhi orang lain untuk melakukan hal yang membahayakan nyawa. Setiap masalah hidup pasti ada jalan keluarnya, dan kematian bukanlah solusi.

Fenomena ini menjadi pengingat bahwa isu kesehatan mental di kalangan anak muda perlu mendapat perhatian serius. Tekanan hidup, masalah pribadi, hingga pengaruh lingkungan bisa membuat seseorang merasa putus asa

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....