Integrasi Ekraf Kunci Tingkatkan Nilai Pariwisata Nasional

  • 08 Apr 2026 09:42 WIB
  •  Ambon

RRI.CO.ID, Ambon - Integrasi ekonomi kreatif (ekraf) dalam rantai nilai pariwisata dinilai menjadi kunci dalam meningkatkan nilai tambah sektor wisata di Indonesia. Selama ini, pariwisata kerap hanya menghasilkan kunjungan tanpa diikuti peningkatan belanja wisatawan di tingkat lokal.

Pengamat Ekonomi Kreatif, Budaya dan Pariwisata, Harry Waluyo, menyebut kondisi tersebut sebagai “kebocoran nilai wisata”, di mana sebagian besar pengeluaran wisatawan justru mengalir ke produk impor, platform asing, hingga operator luar negeri.

Menurut Harry Waluyo, pariwisata modern tidak lagi sekadar menawarkan destinasi, tetapi pengalaman yang menyeluruh. “Wisata harus berubah dari sekadar melihat menjadi mengalami dan membeli. Di sinilah ekonomi kreatif berperan sebagai penggerak nilai sekaligus pembawa identitas budaya,” ujar Waluyo kepada RRI beberapa saat lalu.

Ia menjelaskan, integrasi ekraf perlu dilakukan di seluruh rantai nilai pariwisata, mulai dari tahap perencanaan perjalanan (pre-trip), kedatangan, pengalaman di lokasi, konsumsi, hingga pasca-kunjungan. Pada tahap pengalaman, wisatawan didorong untuk terlibat langsung, seperti mengikuti workshop batik, kelas memasak, hingga pembuatan kerajinan.

Selain itu, pada tahap konsumsi, wisatawan diharapkan tidak hanya menikmati produk, tetapi juga memahami nilai budaya di baliknya, seperti kuliner berbasis gastronomi dan produk fesyen lokal yang ramah lingkungan.

Harry Waluyo juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor, termasuk pelaku UMKM, pemerintah daerah, pelaku industri pariwisata, hingga platform digital. Tanpa integrasi tersebut, ekonomi kreatif hanya akan menjadi pelengkap, bukan penggerak utama dalam pariwisata.

“Ekonomi kreatif harus menjadi DNA dalam pariwisata modern. Jika terintegrasi dengan baik, wisatawan tidak hanya datang dan pulang, tetapi juga belajar, membeli, bercerita, dan kembali lagi,” katanya.

Dari sisi dampak, integrasi ini dinilai mampu meningkatkan pengeluaran wisatawan, mendorong UMKM naik kelas, serta memperkuat pelestarian budaya lokal. Bahkan secara makro, strategi ini berpotensi meningkatkan devisa dan ketahanan ekonomi nasional.

Sebaliknya, tanpa integrasi, pariwisata berisiko hanya menjadi ekonomi transit yang tidak memberikan dampak signifikan bagi masyarakat lokal.

Dengan demikian, konsep pariwisata berbasis pengalaman (experience economy) menjadi arah pengembangan yang dinilai paling relevan untuk memperkuat posisi Indonesia dalam tren wisata global.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....