Filantropi Modern Jadi Bagian Sistem Ekonomi Global

  • 28 Mar 2026 19:18 WIB
  •  Ambon

RRI.CO.ID, Ambon - Kedermawanan dalam era kapitalisme modern kini tidak lagi dipandang sekadar sebagai tindakan moral individual, melainkan telah menjadi bagian dari sistem ekonomi yang terstruktur dan terencana.

Hal ini disampaikan Pengamat Ekonomi Kreatif, Budaya dan Pariwisata, Harry Waluyo, dalam catatannya terkait perkembangan filantropi global kepada RRI beberapa waktu lalu.

Waluyo mengatakan, praktik filantropi saat ini banyak dilakukan oleh tokoh-tokoh besar dunia melalui yayasan yang dikelola secara profesional. “Filantropi modern telah berevolusi menjadi bagian dari sistem yang terintegrasi dengan strategi ekonomi para pemilik modal,” ujar Waluyo.

Menurutnya, dalam banyak negara, donasi kepada lembaga amal juga berkaitan erat dengan kebijakan fiskal, termasuk insentif pajak yang memang dirancang untuk mendorong keterlibatan sektor swasta.

“Ini bukan penyimpangan, melainkan desain kebijakan yang membuat filantropi menjadi bagian dari mekanisme ekonomi,” ucapnya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa batas antara kedermawanan dan kepentingan ekonomi menjadi semakin kabur. Banyak yayasan besar yang mengelola dana secara produktif melalui investasi, sehingga aset tetap berkembang sambil menjalankan program sosial.

“Keputusan untuk berdonasi tidak sepenuhnya didorong oleh altruism, tetapi juga oleh rasionalitas ekonomi,” kata Waluyo.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa dampak positif filantropi tetap nyata, terutama dalam bidang pendidikan, kesehatan, dan pengentasan kemiskinan. Namun, fenomena meningkatnya kekayaan para filantrop juga menjadi sorotan.

“Dalam sistem kapitalisme modern, seseorang dapat memberi tanpa kehilangan posisi ekonominya secara signifikan,” ujarnya.

Dalam konteks Indonesia, praktik serupa juga terjadi meskipun dengan regulasi yang berbeda. Yayasan tetap memiliki fungsi strategis, seperti memperkuat citra sosial dan membangun jejaring. “Fungsi strategis yayasan tetap hadir, meskipun secara hukum bersifat nirlaba,” ucap Waluyo.

Ia menambahkan, filantropi bukanlah solusi utama atas ketimpangan ekonomi global, melainkan hanya pelengkap kebijakan negara. “Filantropi bukan pengganti redistribusi, tetapi pelengkap dalam sistem yang lebih luas,” kata Harry Waluyo.

Harry pun menutup dengan menegaskan bahwa kedermawanan modern berada di antara ketulusan dan kepentingan sistem.

“Kita sedang menyaksikan bentuk baru kedermawanan, yakni altruisme yang dioptimalkan dalam kerangka ekonomi,” ujarnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....