Bolehkah Minum Jamu setelah Minum Obat?

  • 25 Feb 2026 08:44 WIB
  •  Ambon

RRI.CO.ID, Ambon - Jamu dan obat sama-sama dikenal memiliki khasiat dalam membantu mengatasi berbagai keluhan kesehatan. Obat medis diresepkan untuk melawan penyakit, meredakan gejala, serta mencegah kondisi memburuk. Sementara jamu, yang terbuat dari bahan herbal seperti kunyit, jahe, dan temulawak, kerap dikonsumsi untuk menjaga daya tahan tubuh dan kebugaran.

Karena sama-sama dianggap bermanfaat, tak sedikit orang yang langsung minum jamu setelah minum obat dengan harapan proses penyembuhan menjadi lebih cepat. Namun, apakah kebiasaan ini aman?

Sebelum membahas jamu, penting untuk memahami bahwa beberapa makanan dan minuman memang dapat memengaruhi cara kerja obat dalam tubuh.

Dilansir dari National Institute on Alcohol Abuse and Alcoholism, alkohol misalnya, sangat berbahaya jika dikonsumsi bersamaan dengan obat. Kombinasi ini bisa menyebabkan kantuk berat, mual, gangguan pernapasan, bahkan perdarahan dalam.

Sementara itu, menurut informasi dari AccessPharma, minuman berkafein seperti kopi dan teh dapat mengganggu penyerapan obat tertentu dan meningkatkan efek samping seperti jantung berdebar atau iritasi lambung.

Jus buah sitrus seperti grapefruit juga diketahui dapat meningkatkan kadar obat dalam darah sehingga efek samping menjadi lebih kuat. Begitu pula susu atau minuman tinggi kalsium yang bisa menghambat penyerapan beberapa jenis antibiotik.

Secara umum, mencampurkan obat dengan minuman atau bahan tertentu bisa menyebabkan:

  • Penyerapan obat terganggu
  • Interaksi berbahaya dalam tubuh
  • Efek samping meningkat
  • Efektivitas obat menurun

Karena itu, air putih menjadi pilihan paling aman untuk membantu menelan obat.

Jamu memang berasal dari bahan alami. Namun, alami bukan berarti selalu aman jika dikonsumsi bersamaan dengan obat medis.

Beberapa bahan herbal seperti jahe, kunyit, sereh, temulawak, ginseng, bawang putih, lidah buaya, mint, dan daun kelor memiliki senyawa aktif yang dapat memengaruhi metabolisme obat di dalam tubuh. Ada yang bisa memperkuat efek obat, ada pula yang justru menurunkannya atau meningkatkan risiko efek samping.

Karena itu, para ahli menyarankan adanya jeda waktu antara minum obat dan minum jamu, yakni sekitar satu hingga dua jam. Jeda ini bertujuan untuk meminimalkan potensi interaksi yang tidak diinginkan.

Namun, perlu diingat bahwa panduan ini bersifat umum. Setiap orang memiliki kondisi kesehatan, riwayat penyakit, serta jenis obat yang berbeda-beda. Pada pasien dengan penyakit kronis atau yang mengonsumsi obat rutin, interaksi herbal dan obat bisa menjadi lebih kompleks.

Minum jamu setelah minum obat sebaiknya tidak dilakukan secara bersamaan. Beri jeda sekitar satu hingga dua jam untuk mengurangi risiko interaksi.

Agar lebih aman, konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter atau apoteker, terutama jika kamu sedang menjalani pengobatan tertentu. Dengan begitu, manfaat obat tetap optimal dan risiko efek samping bisa dihindari.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....