Krisis Listrik Pascabanjir Aceh: Saatnya Membangun Energi Tangguh

  • 15 Jan 2026 15:12 WIB
  •  Aceh Singkil

RRI.CO.ID, Aceh Singkil - Banjir yang melanda sejumlah wilayah di Aceh beberapa waktu lalu kembali menyisakan persoalan serius, salah satunya adalah pemadaman listrik berkepanjangan. Di banyak tempat, listrik padam bukan hanya hitungan jam, tetapi hingga berhari-hari. Kondisi ini berdampak langsung pada aktivitas masyarakat, layanan kesehatan, komunikasi, hingga roda perekonomian lokal. Peristiwa ini seharusnya menjadi alarm bersama bahwa sistem kelistrikan kita masih rentan terhadap bencana alam, khususnya banjir yang semakin sering terjadi akibat perubahan iklim.

Listrik bukan lagi sekadar fasilitas pendukung, melainkan kebutuhan dasar masyarakat modern. Saat listrik padam, rumah sakit bergantung pada genset dengan keterbatasan bahan bakar, jaringan telekomunikasi melemah, distribusi air bersih terganggu, dan pelaku usaha kecil terpaksa menghentikan aktivitasnya.

Sayangnya, sistem kelistrikan di Aceh masih sangat bergantung pada jaringan terpusat. Ketika gardu terendam atau jaringan distribusi rusak akibat banjir, pemulihan membutuhkan waktu dan biaya yang tidak sedikit.

Energi Terbarukan sebagai Solusi Nyata

Dalam kondisi seperti ini, energi terbarukan berbasis lokal seharusnya tidak lagi dipandang sebagai wacana masa depan, tetapi sebagai solusi nyata untuk ketahanan listrik daerah. Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) skala kecil yang dilengkapi baterai, misalnya, dapat tetap beroperasi meskipun jaringan utama terputus.

Konsep microgrid—sistem listrik mandiri untuk wilayah atau fasilitas tertentu—sangat relevan diterapkan di Aceh, terutama untuk: Rumah sakit dan puskesmas, Posko bencana, Kantor pemerintahan, Sekolah dan fasilitas publik lainnya. Dengan sistem ini, layanan penting tetap berjalan meskipun terjadi bencana.

Pascabanjir: Jangan Hanya Memulihkan, Tapi Memperbaiki dan Menjadikan Bencana sebagai Titik Balik

Pemulihan listrik pascabanjir seharusnya tidak berhenti pada memperbaiki jaringan yang rusak. Pemerintah daerah dan pemangku kepentingan perlu menjadikan kejadian ini sebagai momentum evaluasi dan perbaikan sistem, antara lain dengan: Memetakan infrastruktur kelistrikan yang rawan banjir; Mengintegrasikan energi terbarukan di fasilitas vital; mengembangkan sistem kelistrikan yang lebih cerdas dan adaptif; dan melibatkan perguruan tinggi di Aceh sebagai mitra kajian dan inovasi energi.

Aceh memiliki potensi energi surya, air, dan biomassa yang besar. Jika dikelola dengan tepat, potensi ini dapat menjadi penopang ketahanan energi sekaligus mendorong pembangunan berkelanjutan.

Banjir dan krisis listrik yang menyertainya harus dilihat bukan hanya sebagai musibah, tetapi juga peluang untuk berbenah. Ketahanan energi adalah bagian dari ketahanan daerah. Tanpa sistem listrik yang tangguh, Aceh akan terus berada dalam siklus krisis setiap kali bencana datang.

Sudah saatnya Aceh melangkah menuju sistem energi yang lebih mandiri, tangguh, dan berkelanjutan, demi melindungi masyarakat hari ini dan generasi yang akan datang.

Oleh: Arnawan HasibuanDosen Teknik Elektro Universitas Malikussaleh | Periset Keberlanjutan Energi

Rekomendasi Berita