Keluarga Minta Masa Pencarian Pasutri Subulussalam Diperpanjang

  • 06 Apr 2026 20:45 WIB
  •  Aceh Singkil

RRI.CO.ID, Subulussalam : Harapan besar masih menyelimuti pihak keluarga korban kecelakaan mobil Toyota Kijang Innova silver bernomor polisi BK 1213 SP yang terjun ke jurang Sungai Lae Kombih. Meskipun operasi pencarian resmi ditutup pada hari ketujuh, pihak keluarga memohon agar tim SAR tidak menghentikan upaya pencarian terhadap Rudi Simanjuntak dan Risma Tumangger.

Dani Simanjuntak, adik kandung korban, menyampaikan aspirasi mendalam agar pemerintah daerah segera turun tangan memfasilitasi perpanjangan waktu operasi. Menurutnya, kepastian nasib kakak dan iparnya sangat dinantikan oleh seluruh keluarga besar di Kota Subulussalam yang hingga kini masih dirundung duka.

Pihak keluarga berharap adanya kebijakan khusus dari Basarnas Aceh melalui BPBD Kota Subulussalam untuk menambah durasi penyisiran di sepanjang aliran sungai. Keluarga meyakini bahwa dengan tambahan waktu, kemungkinan ditemukannya tanda-tanda keberadaan korban maupun kerangka kendaraan masih terbuka lebar.

“Kami memohon kepada Basarnas Aceh melalui BPBD Kota Subulussalam agar menambah masa pencarian,” ujar Dani Simanjuntak, Senin 6 April 2026

Menanggapi permintaan tersebut, Komandan Regu Basarnas Medan, Romy Ersa, menjelaskan bahwa prosedur perpanjangan operasi SAR memiliki mekanisme birokrasi yang jelas. Perpanjangan waktu memerlukan koordinasi resmi antara Pemerintah Kota Subulussalam atau Pemerintah Kabupaten Pakpak Bharat dengan pihak Basarnas.

Tanpa adanya instruksi atau permintaan resmi dari pemerintah daerah setempat, Basarnas Medan wajib mengikuti Standar Operasional Prosedur (SOP) yang membatasi pencarian aktif selama tujuh hari. Jika koordinasi tersebut berjalan lancar, laporan akan diteruskan ke tingkat Basarnas Aceh untuk mendapatkan persetujuan teknis.

Sepanjang sepekan terakhir, tim SAR gabungan telah mengerahkan seluruh kemampuan, mulai dari penurunan personel ke dasar jurang hingga penggunaan drone termal. Arus Sungai Lae Kombih yang sangat liar dan tebing yang terjal di kawasan STTUJ menjadi tantangan fisik yang luar biasa bagi setiap personel di lapangan.

Pemasangan jaring dan pengarungan sungai menggunakan perahu karet juga telah dilakukan secara berulang di berbagai titik strategis. Namun, derasnya debit air dan keruhnya sungai pasca hujan sering kali menghambat visibilitas petugas saat melakukan penyisiran di bawah permukaan air.

“Meski berbagai metode telah diterapkan secara maksimal, hingga akhir operasi pencarian, keberadaan korban maupun kendaraan belum berhasil ditemukan,” tegas Romy Ersa.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....