UNESCO Sebut Minat Baca Orang Indonesia Masih Rendah

  • 23 Apr 2024 11:54 WIB
  •  Surabaya

KBRN, Surabaya : Minat membaca buku di Indonesia dinilai masih sangat rendah. Faktanya UNESCO menyebut Indeks minat baca masyarakat Indonesia hanya diangka 0,001% atau dari 1,000 orang Indonesia, cuma 1 orang yang rajin membaca. Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia (Kemenkominfo) dalam laman resminya juga pernah merilis hasil Riset bertajuk World’s Most Literate Nations Ranked yang dilakukan oleh Central Connecticut State Univesity pada Maret 2016 lalu, Indonesia dinyatakan menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara soal minat membaca, persis berada di bawah Thailand (59) dan di atas Bostwana (61). Padahal, dari segi penilaian infrastuktur untuk mendukung membaca, peringkat Indonesia berada di atas negara-negara Eropa.

Sementara itu, PISA atau Programme for International Student Assessment sebuah studi internasional yang menilai kualitas sistem Pendidikan dengan mengukur hasil belajar yang esensial untuk berhasil di Abad ke-21 menyatakan hasil PISA pada tahun 2022 ini terkait literasi membaca, menunjukkan peringkat Indonesia yang naik 5 posisi dibandingkan tahun 2018. Kendati demikian, score yang didapatkan menunjukkan penurunan dan Indonesia masih menduduki 11 peringkat terbawah dari 81 Negara yang didata.

Prof. Mochamad Nursalim, dosen Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) Universitas Negeri Surabaya (Unesa) menyebut minimnya minat baca masyarakat Indonesia bersifat general tetapi minat baca yang rendah juga terjadi dikalangan mahasiswa. Agaknya anggapan membaca yang diidnetikkan dengan buku dalam bentuk fisik mengalami pergeseran dengan sekamin canggihnya era saat ini karena membaca bisa dilakukan dengan buku elekrtonik atau digital.

"buku masih sangat relevan dan menjadi sumber belajar yang utama. Isi muatannya lebih terpercaya dibanding beberapa sumber lain karena melewati beberapa tahap seleksi, validasi, editing, juga menyajikan data dan informasi secara dalam dan komprehensif," ujarnya.

Untuk meningkatkan minat baca, Nursalim mengatakan perlu kesadaran bahwa kini ada banyak sekali sumber bacaan dan pengetahuan. Buku tidak lagi hanya berupa buku cetak, tetapi juga buku elektronik atau e-book maupun jurnal-jurnal atau hasil riset yang tersedia di berbagai platform terpercaya.

Dalam memperingati Hari Buku Seduina diharapkan ini tidak saja menjadi seremoni belaka namun tetap bisa menumbuhkan minat baca masyarakat Indonesia khususnya generasi milenial dan juga menjadikan membaca sebuah budaya serta kebiasaan baik. Hari Buku Sedunia sendiri ditetapkan oleh UNESCO pada 23 April 1955 dengan tujuan untuk mempromosikan tentang kesenangan atau kegembiraan tentang buku atau aktivitas membaca. Perayaan ini juga sebagai wujud kepedulian tentang minat dan pentingnya membaca bagi masyarakat di seluruh dunia.


Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....