Tradisi Gotong Royong Merti Golong Gilig Warga Dipowinatan di Kala Agustusan

  • 19 Agt 2026 14:32 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta - Tradisi tahunan dalam memeriahkan Hari Kemerdekaan kembali digelar di Kampung Wisata Dipowinatan. Mengusung konsep Merti Golong Gilig, agenda budaya tahunan untuk mengenalkan kekayaan seni, budaya, dan kuliner Kampung Dipowinatan.

Acara yang digelar setiap tanggal 18 Agustus sejak tahun 2015 ini, sebagai wujud nyata rasa syukur dan memperkuat semangat gotong royong serta kebersamaan sebagai modal utama bermasyarakat di Kota Yogyakarta.

Pelaksana Tugas (Plt.) Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Sekretariat Daerah Kota Yogyakarta, Agus Arif Nugroho menegaskan, kemerdekaan Indonesia yang diproklamasikan pada tahun 1945 tak lepas dari nilai-nilai kebersamaan seluruh elemen masyarakat. Menurutnya, filosofi Golong Gilig yang diusung dalam acara ini menyimbolkan kekuatan persatuan yang amat luar biasa.

"Jadi manifestasi kemerdekaan itu berangkat dari gotong royong. Jadi dulu tahun '45 kita merdeka, banyak cerita tentang kegotongroyongan," katanya.

Agus mengatakan, gotong royong menjadi modal utama dalam membangun tidak hanya kampung, tetapi juga Kota Yogyakarta. Melalui semangat kebersamaan, tantangan terbesar seperti yang diwariskan para pejuang yang melawan penjajah untuk merebut kemerdekaan bisa terwujud.

"Simbolnya adalah sapu lidi. Satu lidi tidak akan punya kekuatan, tapi pada saat lidi itu banyak dan dirangkai jadi satu, maka lidi itu tidak akan mudah patah dan bisa menyapu dengan bersih," ucapnya.

Menariknya, tradisi Pitulasan Dindipa selain kirab budaya dan rayahan gunungan jajanan, juga diwarnai dengan pesta rakyat. Warga saling berbagi aneka ragam kuliner khas lokal yang disajikan secara gratis untuk seluruh pengunjung yang hadir.

Pengurus Kampung Dipowinatan, Mahadeva Wahyu menjelaskan, perayaan diawali pukul 14.00 WIB dengan Kirab Budaya yang mengarak gunungan bakpao dan arem-arem keliling kampung dengan dikawal oleh Prajurit Bregada Dipo Satrio. Gunungan ini kemudian diperebutkan sebagai wujud rasa syukur dan semangat gotong royong warga.

Pesta Rakyat yang diimplementasikan warga Dipowinatan dengan membagikan makanan kepada warga lainnya secara gratis. (Foto: RRI/Dyan Parwanto)

Deva mengatakan, tradisi Golong Gilig setiap 18 Agustus sejak 2015 dan pada sore harinya, panitia menampilkan fragmen Sang Dipo Winoto. Pertunjukan yang mengangkat kisah cikal bakal Kampung Dipowinatan, termasuk penggabungan Kampung Numbak Anyar dan Kampung Bintaran yang menjadi bagian dari sejarah terbentuknya Kampung Dipowinatan.

"Kita swadaya di sini dengan warga berdonasi, kita bisa menggelar acara satu bulan penuh kita merayakan kemerdekaan dengan Bulan Kemerdekaan. Diawali pembukaan kemarin tanggal 2 Agustus dan besok akan kita tutup tanggal 29 Agustus," ujarnya.

Deva mengungkapkan, pesta rakyat ini tidak sekadar bentuk sukacita dan syukuran warga atas kedamaian di lingkungan mereka, tetapi juga menjadi sarana promosi potensi kuliner Kampung Wisata Dipowinatan. Warga membawa makanan dari rumah dan membagikannya secara gratis kepada masyarakat.

"Apa pun yang ada di sini, yang dimiliki oleh masyarakat, ini kita keluarkan, kita bagikan secara gratis. Karena ini bagian dari promosi kampung wisata bahwa kami mempunyai potensi kuliner yang cukup beragam," ujarnya, menambahkan.

Bagi warga Dipowinatan, kemerdekaan bukan sekadar seremoni, warga menerjemahkannya melalui kebersamaan, berbagi, berkesenian, dan menjaga hubungan antartetangga. Semangat Golong Gilig terus mereka hidupkan sebagai kekuatan bersama untuk menjaga identitas kampung sekaligus menghadapi berbagai tantangan zaman.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....