Jejak Usaha Irfan Kurniawan hingga Sukses Bangun ATV Kaliurang

  • 27 Jul 2026 05:15 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Sleman – Sebelum namanya identik dengan puluhan unit ATV di Kaliurang, Irfan Kurniawan kecil lebih dulu akrab dengan recehan seribu dan dua ribu rupiah hasil menyewakan payung kepada wisatawan yang turun dari mobil. Ia tumbuh di sekitar Terminal Tlogo Putri, Kaliurang, Yogyakarta, di tengah keluarga besar yang nyaris seluruhnya menggantungkan hidup dari sektor wisata — mulai dari nenek, orang tua, hingga saudara-saudaranya.

Uang bukan satu-satunya yang ia pelajari dari masa kecil itu, melainkan sebuah gelisah yang tak pernah benar-benar hilang: rasa tidak puas hanya berpangku pada penghasilan orang tua. Ayahnya sendiri berprofesi sebagai guru akuntansi berstatus Pegawai Negeri Sipil (PNS), sebuah pekerjaan yang sebetulnya sudah cukup untuk menopang keluarga. Namun lingkungan tempat ia dibesarkan membisikkan hal lain, hingga ia tumbuh menjadi anak yang selalu mencari cara sendiri untuk mengisi kantong.

Kegelisahan itu ikut menyeberang ke bangku kuliah di Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), tempat ia menempuh pendidikan S1 hingga S2. Di sela kuliah, ia tetap berdagang jagung bakar hasil kulakan dari Pasar Kranggan, sembari merintis usaha pecel lele bersama kekasihnya yang kini menjadi istrinya — namun usaha itu akhirnya kandas di tengah jalan. Dari kegagalan itu justru lahir usaha baru, rental PlayStation di kawasan Jalan Kaliurang dekat Universitas Islam Indonesia, yang berkembang pesat hingga ia mengoperasikan dua lokasi sekaligus.

Setelah menikah dan membangun keluarga sendiri, jiwa dagangnya kembali menemukan wadah baru melalui kafe Waroeng Parto di kawasan wisata Kaliurang. Usaha ini terus berjalan hingga pandemi Covid-19 datang dan melumpuhkan seluruh sektor pariwisata di sekitarnya. Momen kelam itu justru menjadi pintu masuk bagi usaha skuter listrik bersama kedua adiknya, Ayu dan Arsyan, yang kemudian bertumbuh menjadi bisnis ATV yang jauh lebih besar.

Wisatawan bersiap menggunakan skuter listrik di kawasan Kaliurang, Sleman, Sabtu 25 Juli 2026. Usaha yang dikelola Irfan Kurniawan tersebut menyediakan skuter sebagai salah satu pilihan aktivitas wisata bagi pengunjung. (Foto: RRI/Fatimah Nurul Khasanah)

Di antara riuhnya berbagai usaha yang ia jalani, panggilan untuk mendidik tak pernah benar-benar ia tinggalkan. Sejak 2004 ia mengajar sebagai guru honorer di sekolah dasar, sebelum resmi menjadi PNS pada 2008 dan mengajar hingga 2026. Kariernya sebagai pendidik kini berlanjut di SMK Negeri 1 Seyegan.

Latar belakangnya sebagai mantan atlet dan pelatih bola voli berlisensi turut membentuk caranya memandang hidup — sebuah dunia yang menurutnya tak jauh berbeda dari arena pertandingan, tempat kalah dan menang silih berganti tanpa bisa dihindari.

Filosofi bertanding sebagai mantan atlet rupanya menjadi kompas dalam menghadapi jatuh bangun berbisnis. "Tidak latihan tapi maunya menang," katanya, menyamakan persaingan usaha dengan persiapan sebelum sebuah pertandingan : semakin keras kompetitor berlatih, semakin keras pula ia harus berlari untuk tetap unggul. Prinsip itu berkali-kali diuji, mulai dari usaha yang gulung tikar hingga masa sepi pengunjung yang memaksanya menombok modal demi tetap mempertahankan karyawan.

Kini di usia 45 tahun, dua dunia yang tampak berlawanan itu berjalan berdampingan dalam kesehariannya. Setiap Senin hingga Jumat ia mengajar, Sabtu dan Minggu ia habiskan untuk turun tangan langsung mengurus ATV, skuter, dan kafe.

Sejumlah pekerja beraktivitas di ATV Kaliurang Cafe, Kaliurang, Sleman, Sabtu 25 Juli 2026. Kafe ini menjadi bagian dari usaha wisata yang dikembangkan Irfan Kurniawan. (Foto: RRI/Fitriana Dwi Novitasari)

Semua perjalanan itu kini ia tanamkan kembali kepada generasi berikutnya, termasuk anaknya sendiri yang sudah diajari berdagang sejak kecil — bahkan dari hal sesederhana menjual cetakan gambar idola kepada teman sekolah.

“Anak-anak muda sekarang harus memiliki daya juang tinggi, jiwa wirausaha itu tanamkan sejak dini lah. Belajar dari hal-hal kecil seperti saya dulu,” katanya.

Jiwa wirausaha bukan sekadar soal mencari penghasilan tambahan, melainkan bekal agar seseorang tidak mudah menyerah ketika satu jalur hidup yang diimpikan ternyata buntu. Dari penyewa payung seribuan hingga pemilik puluhan ATV, jarak yang ditempuh Irfan adalah bukti bahwa keberanian mencoba selalu lebih berharga daripada rasa aman yang ditawarkan zona nyaman. (Fatimah/Fitriana)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....