Digeruduk Wisatawan tanpa Izin, Between Two Gates Kotagede Ditutup sementara

  • 04 Jun 2026 10:42 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta - Kawasan cagar budaya dan destinasi wisata ikonik di Kotagede, Between Two Gates (BTG), dilaporkan ditutup sementara. Langkah drastis ini diambil menyusul insiden membludaknya pengunjung tanpa izin serta keluhan terkait etika sebagian wisatawan yang mengganggu kenyamanan ruang privat warga, pada Minggu, 31 Mei 2026.

Kawasan yang terkenal dengan kekhasan arsitektur Jawa dengan rumah saling berhadapan dengan lorong-lorong ini, untuk sementara tidak bisa dikunjungi wisatawan. Pengelola tengah melakukan evaluasi total terkait masa depan pariwisata di dalam lorong pemukiman tersebut.

Pengelola Kawasan Between Two Gates, Joko Nugroho mengatakan, penutupan sementara ini disebabkan karena adanya kedatangan wisatawan luar daerah dalam jumlah besar. Masalah utama bukan karena kunjungan wisatawan, tetapi karena tidak ada izin atau pemberitahuan terlebih dahulu dengan pengelola.

"Dua bus turun di kompleks masjid makam langsung masuk ke PTG tanpa pemberitahuan, tanpa izin. Tiba-tiba pukul tujuh pagi masuk ramai, kayak tamu luar (asing)," katanya, Rabu, 3 Juni 2026.

Joko menyebutkan, jumlah wisatawan sekitar 70 - 80 orang yang sebelumnya masuk tanpa pemberitahuan ini mengakibatkan warga kurang berkenan. Ia tidak menampik, bahwa persoalan yang terjadi akhir pekan kemarin merupakan puncak gunung es dari beberapa persoalan yang terjadi dari perkembangan pariwisata ikonik tersebut.

"Warga keberatan kalau segitu banyak tanpa ada pemberitahuan, akhirnya kita kita stop. Kemudian secara spontan ya sudah karena di belakang itu masih banyak banyak tamu ya akhirnya kita tutup lah sementara ini biar mereka enggak masuk," ucapnya.

Joko membeberkan, sejumlah persoalan dari pariwisata ikonik tersebut dihadapi, terutama keluhan sejumlah pengunjung yang datang khususnya daei kalangan muda atau Gen Z. Menurutnya, sejak dominasi media sosial sekitar tahun 2015, mengubah paradigma BTG dari wisata edukasi untuk studi arsitektur dan sejarah yang tenang, menjadi spot foto yang diburu demi konten estetik yang instagramable.

"Mereka yang datang anak-anak Gen Z yang rata-rata anak-anak muda bawa kamera m, bawa HP kemudian masuk tanpa, nuwun sewu, etikanya itu kurang, ada pemilik rumah juga enggak aruh-aruh (cuek), jeprat-jepret, kan juga lama-lama warga itu menjadi enggak nyaman," ujarnya.

Joko mengungkapkan, banyak asumsi yang keliru, terutama bagi pembuat konten yang menganggap bahwa lorong di antara dua gerbang itu merupakan ruang publik yang terbuka untuk umum. Dijelaskannya, sebenarnya sembilan rumah dan lorong ikonik BTG merupakan milik pribadi, hanya saja untuk memudahkan akses warga kemudian dibuka berdasarkan kesepakatan bersama untuk jalan pertolongan.

"Itu sudah sejak lama kita buka memang kesepakatan warga yang dari zaman Bapak saya dulu, kita buka saja sini siapapun boleh lewat. Tapi itu memang hanya untuk jalan pertolongan orang siapapun boleh," katanya, menambahkan.

Joko menyebutkan, pengelola sebenarnya juga melakukan langkah antisipatif agar hal-hal yang tidak diinginkan tidak terjadi, salah satunya dengan membuat papan-papan informasi. Hanya saja, diakui papan pemberitahuan yang terpasang dirasakan hanya sebagai pajangan.

"Ternyata itu juga enggak mempan. Karena memang, mereka datang itu literasinya minim banget," katanya, mengungkapkan.

Joko juga menyebut, telah melakukan pertemuan dengan Dinas Pariwisata untuk klarifikasi terkait penutupan sementara BTG. Diungkapkannya, persoalan wisata di Kotagede sebenarnya hampir sama, karena kawasan ini tidak pas untuk mass tourism, jika ada wisata pun memang wisata minat khusus.

"Tapi dengan berkembangnya media sosial sekarang itu kan akhir-akhir ini banyak banget informasi tentang Kotagede. Sekarang ketika terjadi lonjakan pengunjung itu terjadi persoalan, karena kampungnya itu jalannya sempit-sempit, ketika banyak di jalan orang itu kan resistensi sosialnya tinggi banget, masalah lalu lintas di Kota Gede itu wes macet eh pol. Seperti kemarin long weekend itu," ucapnya, menjelaskan.

Joko menjelaskan, dengan dinamika yang terjadi di kawasan Kotagede, khususnya di Between Two Gates ini, pihak pengelola bersama warga akan melakukan diskusi untuk memutuskan rumusan selanjutnya. Apalagi, dampak ekonomi ke masyarakat dari banyaknya wisatawan dirasa belum maksimal.

"Terkait ke depannya ini baru kita akan rembukan warga BTG, untuk mencari solusi baiknya gimana ke depan. Kita akan mengadakan pertemuan seluruh warga terus baiknya ke depannya gimana dan seterusnya itu baru akan kita bahas," ujarnya, mengakhiri.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....