Bule Mengajar di Kotagede Siap Direplikasi ke 40 Kampung Wisata Kota Yogyakarta

  • 17 Mei 2026 11:55 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta - Pemerintah Kota Yogyakarta tengah mematangkan konsep baru untuk mendongkrak kualitas pariwisata daerah melalui Program Bule Mengajar. Program ini dirancang bukan sekadar untuk menarik angka kunjungan, melainkan sebagai strategi memperpanjang durasi tinggal (length of stay) wisatawan mancanegara (wisman) sekaligus memberikan dampak ekonomi langsung bagi warga akar rumput.

Langkah awal program ini dimatangkan melalui Focus Group Discussion (FGD) yang digelar di Kantor Kemantren Kotagede, pada hari Rabu, 13 Mei 2026. Kotagede sendiri dipilih menjadi lokasi proyek percontohan (pilot project) sebelum nantinya direplikasi ke seluruh kampung wisata di Yogyakarta.

Wakil Wali Kota Yogyakarta, Wawan Harmawan, Program Bule Mengajar tidak sekadar menghadirkan wisatawan mancanegara untuk berkunjung, tetapi mendorong keterlibatan langsung dengan warga melalui aktivitas berbagi pengalaman, mengajar bahasa, keterampilan, hingga wawasan global di sekolah maupun kampung wisata. Menurutnya, orientasi utama setiap program pemerintah harus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, termasuk di sektor pariwisata.

“Pariwisata itu harus berdampak langsung kepada masyarakat. Wisatawan datang bukan hanya melihat-lihat, tetapi ikut berinteraksi, belajar budaya, masuk kampung, hingga berbagi ilmu, dari situ ada dampak ekonomi, sosial, dan pemberdayaan warga,” katanya.

Wawan menilai, keterlibatan wisatawan dalam aktivitas masyarakat akan memperpanjang lama tinggal wisatawan (length of stay). Sehingga meningkatkan belanja produk UMKM lokal, sekaligus menciptakan pemerataan manfaat ekonomi hingga tingkat kampung.

“Kalau wisatawan tinggal lebih lama, mereka makan di warung warga, membeli produk UMKM, ikut aktivitas kampung, maka manfaatnya dirasakan langsung oleh masyarakat,” ucapnya.

Selain itu, Wawan menegaskan, budaya dan norma yang berlaku di masyarakat menjadi sebuah kekhasan di Daerah Istimewa Yogyakarta. Sehingga hal ini bisa menjadi sebuah pakem yang juga bisa disuguhkan wisatawan mancanegara yang datang ke Yogyakarta.

“Walaupun mereka tamu dan wisatawan, kita tetap harus punya prinsip, mereka harus mengikuti aturan, budaya, dan norma yang dimiliki Yogyakarta. Jangan semuanya dibebaskan, karena identitas dan nilai budaya lokal tetap harus dijaga,” ujarnya.

Kepala Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta,.Lucia Daning Krisnawati mengatakan, Program Bule Mengajar menjadi salah satu upaya pengembangan pariwisata berkelanjutan berbasis pemberdayaan masyarakat dan keterlibatan kampung wisata. Menurutnya, Program Bule Mengajar yang saat ini dipilotkan di kawasan Kotagede akan terus dikembangkan dan direplikasi ke kampung wisata lain di Kota Yogyakarta yang saat ini berjumlah 40 kampung wisata.

“Program ini tidak hanya memperkuat sektor pariwisata, tetapi juga menjadi ruang kolaborasi dan pemberdayaan masyarakat agar manfaat ekonomi dan sosial dapat dirasakan lebih luas. Pilot project di Kotagede ini nantinya akan dikembangkan ke kampung-kampung wisata lainnya di Kota Yogyakarta,” ujarnya.

Daning menyebutkan, konsep wisata berbasis pengalaman yang melibatkan wisatawan secara langsung dengan aktivitas masyarakat dinilai mampu memperkuat identitas kampung wisata sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi warga. Ia menegaskan, ke depan Program Bule Mengajar juga akan diintegrasikan dalam paket wisata kampung yang telah dikembangkan di kawasan Kotagede, sepert dalam Paket Kampung Wisata Prenggan dan Paket Kampung Wisata Purbayan.

“Kami ingin seluruh kampung wisata memiliki ciri khas dan pengalaman unik yang bisa dirasakan wisatawan. Jadi dampaknya tidak hanya pada kunjungan wisata, tetapi juga pemberdayaan masyarakat di kampung,” katanya, menambahkan.

Berbagai potensi wisata dan budaya di Kotagede yang dikolaborasikan dalam Program Bule Mengajar, di antaranya kawasan Between Two Gates Purbayan, Kompleks Masjid Gede dan Makam Raja-Raja Mataram, sentra kerajinan perak, Pasar Legi, hingga wisata kuliner tradisional seperti kipo dan kembang waru.

Diskusi dalam FGD tersebut, salah satu pelaku usaha jasa pariwisata dari Via Via Travel, Uut menekankan, pentingnya aspek perlindungan anak dalam pelaksanaan Program Bule Mengajar, mengingat sasaran program nantinya melibatkan anak-anak sekolah maupun anak-anak di wilayah kampung wisata. Ia menyebut, program tersebut perlu dilengkapi dengan child protection policy, standar operasional prosedur (SOP), konsep pengajaran dan bahan ajar yang jelas, hingga pedoman dos and don’ts bagi wisatawan mancanegara yang terlibat.

“Karena nanti yang terlibat anak-anak, maka harus ada aturan yang jelas agar program berjalan aman dan nyaman, baik bagi anak-anak maupun wisatawan,” ujarnya.

Uut juga menyoroti pentingnya pengaturan mengenai cara berpakaian, batasan interaksi dan sentuhan fisik, serta pemahaman bahwa anak-anak belum dapat memberikan persetujuan (consent) secara penuh.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....