Between Two Gates Kotagede, Lorong Harmoni Penuh Makna
- 30 Apr 2026 23:01 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta – Suasana terasa berbeda saat memasuki lorong sempit di Kampung Alun-Alun, Purbayan, Kotagede. Langkah kaki seakan melambat, udara lebih sejuk, dan waktu terasa berjalan lebih tenang. Di sisi kanan dan kiri, rumah-rumah joglo berdiri anggun saling berhadapan, membingkai sebuah jalan kecil selebar kurang dari dua meter yang dikenal sebagai dalan rukunan—bukan sekadar jalur, tetapi ruang hidup bersama.
Lorong ini sejatinya merupakan milik pribadi, namun dibuka untuk umum atas dasar kesadaran kolektif. Siapa saja boleh melintas dengan syarat menjaga sikap. Dari kebiasaan sederhana itu tumbuh nilai penting seperti kepercayaan, saling menghormati, dan hidup berdampingan. Warga tidak hanya berbagi ruang, tetapi juga rasa memiliki.
Keunikan kawasan ini ditandai oleh dua gerbang di kedua ujung lorong. Dari situlah muncul sebutan Between Two Gates atau “di antara dua gerbang”, istilah yang dikenalkan oleh peneliti arsitektur UGM pada 1986. Kawasan ini kemudian dikenal luas sebagai salah satu ciri khas Kotagede.
Berada di pusat kawasan bersejarah Kotagede—yang dahulu merupakan ibu kota Mataram Islam pada masa Panembahan Senapati—lingkungan ini menyimpan jejak sejarah yang masih hidup dalam keseharian warganya. Between Two Gates atau Lawang Pethuk menjadi bagian dari living museum, tempat tradisi tetap dijaga dan dijalankan.
Terdapat sembilan rumah joglo yang tersusun rapi, masing-masing memiliki pendhapa dan dalem yang mengikuti kaidah arsitektur Jawa. Rumah-rumah yang saling berhadapan ini kerap dimiliki oleh satu keluarga, dengan rumah utama berada di sisi utara dan menghadap ke selatan. Orientasi tersebut mencerminkan filosofi kosmologis Jawa yang menghubungkan Gunung Merapi dan Laut Selatan sebagai simbol keseimbangan hidup.
Kekuatan utama kawasan ini tidak hanya pada bentuk fisiknya, tetapi juga pada hubungan sosial antarwarganya. Pendhapa dimanfaatkan sebagai ruang bersama untuk kegiatan seperti pengajian, musyawarah, hingga obrolan santai. Di bagian belakang rumah, terdapat pintu-pintu penghubung yang memudahkan interaksi dan saling membantu.
Sepanjang lorong, bangku-bangku sederhana menjadi tempat warga berinteraksi. Ada kesadaran kolektif bahwa jalan tersebut merupakan bagian dari ruang hidup orang lain, sehingga setiap langkah diiringi dengan sikap saling menghormati. Nilai inilah yang menjadikan Gang Rukunan sebagai salah satu hidden gem Kotagede—sebuah ruang kecil dengan makna besar.
Selain menawarkan keindahan visual melalui dua gerbang ikonik, kawasan ini juga memperlihatkan kuatnya nilai sosial di tengah kehidupan modern. Konsep hunian tradisional yang tetap terjaga mencerminkan kerukunan dan kekerabatan yang terus hidup.
Pemerintah Daerah DIY melalui OPD terkait terus menjaga kelestarian kawasan ini dengan pendekatan berbasis pelestarian. Keaslian elemen bangunan seperti dinding, pintu, hingga ornamen khas seperti bahu danyang pada rumah joglo tetap dipertahankan.
Pada akhirnya, Between Two Gates bukan sekadar lorong di antara dua gerbang, melainkan ruang di antara manusia—tempat kepercayaan tumbuh, interaksi terjalin, dan harmoni terjaga. Lorong kecil ini menghadirkan wajah Yogyakarta yang sesungguhnya: sederhana, hangat, dan sarat makna. Sebuah pengingat bahwa warisan budaya terbaik bukan hanya yang terlihat, tetapi yang terus hidup dalam keseharian.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....