Peken Klangenan Kotagede, Dibangun Sebagai Ruang Budaya

  • 31 Jan 2026 23:43 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta - Kotagede merupakan salah satu kawasan di Yogyakarta yang menyimpan jejak sejarah panjang, mulai dari peninggalan Mataram Islam hingga tradisi masyarakat yang masih hidup hingga kini. Kawasan ini dikenal dengan suasana pemukiman tua, situs bersejarah, serta nilai budaya yang kuat.

Di tengah kawasan tersebut, hadir Peken Klangenan Kotagede, sebuah pasar wisata berbasis budaya yang mulai berjalan pada Mei 2025. Pasar ini hadir sebagai ruang temu antara aktivitas ekonomi, seni, tradisi, dan edukasi budaya yang dapat diakses oleh masyarakat sekitar maupun wisatawan

Pengelola Peken Klangenan Kotagede, Awang Kaguna, menyebut kehadiran pasar ini berangkat dari kegelisahan pribadinya terhadap Yogyakarta sebagai kota wisata dan kota seniman. “Aku membayangkan asik kalau Jogja punya pasar wisata atau pasar seni yang benar-benar bisa diakses publik sebagai ruang budaya,” ujar Awang Kaguna.

Menurut Awang, Peken Klangenan tidak dimaksudkan hanya sebagai pasar dalam pengertian jual beli. “Kita sebenarnya tidak sedang membangun pasar, tapi membangun ruang budaya dan ekosistem baru di Kotagede, di mana orang-orang dengan minat seni, tradisi, sejarah, dan spiritual lokal bisa berkumpul,” katanya.

Beragam aktivitas dihadirkan di Peken Klangenan, mulai dari pasar kuliner, pasar kerajinan tangan, pameran seni, hingga kelas akhir pekan. Beberapa kelas yang rutin digelar antara lain kelas aksara kawi dan babar serat, serta pameran seni.

Dalam sektor kuliner dan kerajinan, pengelola menerapkan sistem seleksi yang cukup ketat. Setiap satu jenis kuliner hanya diperbolehkan satu penjual, sedangkan untuk kerajinan tangan diwajibkan karya sendiri dan bukan hasil dari pabrikan

Salah satu konsep yang menjadi perhatian di Peken Klangenan adalah pengenalan minuman tisan, yang disebut sebagai wedangan versi modern. Awang menjelaskan, “Tisan itu semua tanaman yang diseduh air panas tapi bukan daun teh, jadi bunga-bungaan dan rempah-rempah Nusantara. Ini akulturasi wedangan kita dengan budaya teh bunga Eropa dan Jepang,” ucapnya.

Sejak mulai berjalan pada Mei 2025, Peken Klangenan terus berkembang dengan adanya agenda atau kegiatan baru setiap pekan. Kedepannya, pengelola merencanakan acara khusus pada Mei 2026 sebagai penanda satu tahun perjalanan Peken Klangenan. (aryasena)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....