Menapaki 409 Anak Tangga di Pusara Raja Makam Imogiri
- 30 Jan 2026 21:11 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta – Makam raja – raja imogiri merupakan kompleks pemakan kerajaan serta sebagai destinasi wisata sejarah dan religi. Terletak di Desa Girirejo dan Wukirsari, Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul, DIY ini menjadi tempat peristirahatan raja – raja mataram islam, Kesultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta.
Abdi Dalem Makam Imogiri, Mas Bekel Jaga windarno, mengatakan bahwa makam imogiri didirikan oleh Kanjeng Sultan Agung Hanyokrokusumo pada tahun 1632. Sultan Agung dikenal bukan hanya sebagai raja besar mataram islam, melainkan sebagai tokoh penyiar islam dan pahlawan nasional.
“awalnya Kawasan ini bernama bukit perak, namun kemudian diberi nama imogiri, yang berasal dari kata himo (kabut) dan giri (gunung) karena puncaknya sering ditutupi oleh kabut. Pemilihan lokasi ini dipercaya berkaitan dengan pencarian wahyu oleh sultan agung, yang menurut tradisi berasal dari tanah suci mekah dan jatuh di bukit tersebut,” katanya.
Untuk mencapai gapura makam imogiri, wisatawan harus menaiki 409 anak tangga dari kawasan Masjid Agung Kagungan Dalem. Adapun makna jumlah anak tangga adalah, Angka 4 melambangkan kitab suci yang dikenal di tanah jawa, angka 0 bermakna ketika melangkah menuju ziarah harus ingat kepada sang khalik dan harus meninggalkan segala urusan dunia serta angka 9 berkaitan dengan wali songo.
Sementara untuk sampai ke makam sultan agung terdapat 99 anak tangga yang mengandung makna asmaul husna, sehingga total anak tangga yang ada sebanyak 508.
“Setiap anak tangga punya filosofi, mulai dari sejarah pembangunan makam, perjalanan spiritual, hingga nilai keagamaan dan budaya Jawa,” katanya.
Saat ini, makam imogiri tetap menjalankan berbagai tradisi, seperti nyadran menjelang Ramadhan dan nguras enceh (menguras air di kendi, red) yang dilaksanakan setiap Jumat Kliwon pada bulan Sura. Tradisi yang dilakukan oleh juru kunci makam imogiri tentunya melibatkan Keraton Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta.
Selain harus menaiki anak tangga, wisatawan diwajibkan untuk mematuhi aturan yang ada, termasuk penggunaan busana tradisional berupa busana pranakan, kain batik dan blankon untuk pria. Sementara untuk perempuan menggunakan kemben atau semekan (kain lilit) dan jarik.
“Aturan itu bukan tertulis, tapi berasal dari adat nenek moyang dan tetap kami jaga sebagai warisan budaya,” ucapnya.
Makam imogiri buka setiap hari Sabtu – Kamis pada pukul 10.00 – 13.00 WIB dan hari Jumat pukul 13.00 – 16.00 WIB, Adapun bulan puasa makam ini tutup selama sebulan dan buka kembali pada tanggal 1 Syawal. (Victorio Firsta)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....