Museum Batik Yogyakarta, Menghargai Batik sebagai Wastra Warisan Dunia

  • 27 Jan 2026 19:53 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta – Museum Batik Yogyakarta menghadirkan pengalaman wisata edukatif yang memungkinkan pengunjung untuk menyelami seni tradisional nusantara. Museum yang terletak di Jalan Doktor Sutomo No. 13A, Bausasran, Kecamatan Danurejan, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta menampilkan beberapa koleksi batik, mulai batik keraton hingga batik pengaruh budaya India, Cina, Jepang, Belanda dan Timur Tengah.

Wakil Pengelola Museum Batik Yogyakarta, Didik Wibowo, menyampaikan bahwa Museum Batik Yogyakarta didirikan pada 1973 oleh pasangan suami istri yaitu Hadi Nugroho dan Dewi Sukaningsih atas kecintaan pada batik nusantara sekaligus untuk melestarikan budaya batik. Kemudian pada 12 Mei 1979 Museum ini diresmikan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan DIY.

“Saat itu usia ibu Dewi 47 dan karena kecintaan beliau pada budaya batik nusantara, maka beliau mendirikan museum batik ini. Kemudian beliau ingin melestarikan batik serta untuk edukasi bagi masyarakat, wisatawan juga,”kata didik.  

Sementara itu, di Museum Batik Yogyakarta terdapat 1.200 koleksi batik yang terdiri dari 500 lembar kain batik tulis, 560 batik cap, 124 canting dan 35 wajan yang digunakan untuk membatik. Adapun koleksi batik yang dipajang di museum ini beragam, mulai dari Batik Sinom Semen Gurdho, Motif Yuyu Sekandang, Motif Parang Kusuma, Motif Satria Wibawa, Motif Tambal Motif Cuwiri Ageng, Batik Ceplok pengaruh kain Chintz dari India, Batik Pekalongan dan masih banyak lagi jenis batik di museum ini.

Selain batik, di museum ini juga terdapat kebaya encim dengan berbagai warna dan bahan yang berbeda beda. Kemudian didekat pintu akses keluar museum juga terdapat beberapa koleksi kain bordir pada tahun 1947.

Tak hanya batik saja, di museum ini terdapat bagaimana cara Hadi Nugroho dan Dewi Sukaningsih menyimpan batik di museum tersebut. Dengan cara di gulung panjang yang rapi dengan tujuan untuk menghindari melipat kain dalam waktu yang lama dikarenakan dapat merusak serat kain.

Selain itu, pengunjung museum yang datang dari berbagai kalangan, mulai dari pelajar, keluarga hingga rombongan wisatawan baik domestik hingga mancanegara. Menurut didi, pengalaman praktek batik membuat wisatawan lebih menghargai seni, filosofi dan nilai budaya batik nusantara sekaligus mendorong pelestarian warisan budaya.

“Salah satu cara kita melestarikan batik, disini ada workshop batik, ada art shop, kemudian kita juga bekerja sama dengan pengrajin – pengrajin batik yang bisa menitipkan produknya di Museum Batik Yogyakarta. Selain itu, dibelakang museum ini ada cafe dalam maupun cafe taman dan juga ada Hotel Museum Batik Yogyakarta,” kata didik.

Adapun harga tiket masuk mulai dari Rp30.000 untuk semua pengunjung berbagai kalangan, mulai dari anak – anak maupun orang dewasa. Selain itu terdapat workshop batik mulai dengan harga Rp90.000 dan museum ini buka mulai pukul 09.00 WIB hingga 15.00 WIB (Victorio Firsta). 

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....