Persiapan Penting Menyambut Datangnya Ramadan

  • 07 Feb 2026 06:44 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta - Mengisi bulan Sya'ban umat Islam mulai melakukan persiapan menyambut bulan suci Ramadan. Pimpinan Pusat Muhammadiyah telah menetapkan bahwa awal Ramadan 1447 H jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026. 

Kepastian ini menjadi pengingat penting agar kaum muslimin mempersiapkan diri secara spiritual, fisik, dan sosial untuk menyambut Ramadan dengan sebaik-baiknya.

Hal tersebut disampaikan oleh Ustaz Arya dari Bina Rohani Islam RS PKU Muhammadiyah dalam acara Mutiara Pagi Pro1 RRI Yogyakarta Sabtu, 7 Februari 2026. Ia menegaskan bahwa bulan Sya’ban merupakan momentum strategis untuk mempersiapkan diri agar ibadah Ramadan nantinya benar-benar maksimal dan bermakna.

“Bulan Sya’ban adalah waktu yang tepat untuk mempersiapkan diri, agar Ramadan yang kita jalani nanti tidak hanya bermakna bagi diri sendiri, tetapi juga membawa kebaikan bagi keluarga dan masyarakat sekitar,” ujar Ustaz Arya.

Sya’ban momentum persiapan Ramadan

Bulan Sya’ban memiliki kedudukan istimewa dalam Islam karena berada di antara bulan Rajab dan Ramadan. Pada bulan inilah umat Islam dianjurkan untuk meningkatkan kualitas ibadah sebagai bentuk persiapan spiritual menjelang Ramadan.

Rasulullah Saw memberikan teladan nyata dalam memuliakan bulan Sya’ban. Dalam berbagai hadis yang merujuk pada perkataan, ketetapan, dan perilaku Nabi, disebutkan, beliau tidak pernah berpuasa sunnah dalam satu bulan lebih banyak dibandingkan bulan Sya’ban. Bahkan, Rasulullah hampir berpuasa sepanjang bulan tersebut sebagai bentuk persiapan menghadapi Ramadan.

Mensucikan jiwa dengan ibadah

Salah satu persiapan utama menyambut Ramadan adalah mensucikan jiwa. Hal ini dilakukan dengan memperbanyak ibadah di bulan Sya’ban, seperti puasa sunnah, membaca Al-Quran, berzikir, dan memperbaiki hubungan dengan sesama.

Persiapan jiwa menjadi fondasi penting agar ibadah puasa dan amalan Ramadan lainnya dapat dijalani dengan penuh keikhlasan dan kesungguhan, sehingga berdampak pada peningkatan ketakwaan.

Persiapan fisik, waktu, dan harta 

Selain persiapan spiritual, umat Islam juga perlu menyiapkan fisik, waktu, dan harta. Puasa bukanlah ibadah yang baru, karena telah diwajibkan kepada umat-umat terdahulu. Tujuan utama dari ibadah puasa adalah membentuk pribadi yang bertakwa.

Ramadan merupakan bulan pembinaan, di mana setiap muslim digembleng melalui ibadah puasa, shalat malam, sedekah, dan amalan lainnya agar keluar dari bulan tersebut sebagai pribadi yang lebih baik dan lebih bertakwa.

Makna ketakwaan dalam kisah Nabi Musa as

Dalam sesi tanya jawab, salah satu pendengar Siti dari Banguntapan menanyakan tentang kisah Nabi Musa yang bertanya kepada Allah mengenai siapa hamba yang paling bertakwa di sisi-Nya.

Menjawab pertanyaan itu Ustaz Arya menjelaskan bahwa di era modern saat ini, ketakwaan tidak hanya diwujudkan dengan menjaga lisan, tetapi juga menjaga jari-jari, yaitu apa yang kita tulis dan sebarkan melalui media digital, karena hal tersebut dapat berdampak besar bagi orang lain.

Dalam sebuah kisah, Nabi Musa pernah bertanya kepada Allah:

“Wahai Rabbku, siapakah hamba-Mu yang paling bertakwa dan paling baik menurut-Mu?” kata Arya.

Allah menjawab bahwa hamba yang paling baik dan paling bertakwa adalah orang yang selalu mengingat Allah dan tidak pernah melupakan-Nya.

Ketika Nabi Musa kembali bertanya:

“Wahai Rabbku, siapakah hamba-Mu yang paling mendapatkan petunjuk?”

Allah berfirman bahwa hamba yang paling mendapatkan petunjuk adalah orang-orang yang mengikuti petunjuk ketika petunjuk itu datang kepada mereka.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....