Sehatkan Kehamilan Sejak Dini, Pentingnya Persiapan Mental dan Fisik
- 04 Feb 2026 11:24 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta-- Persiapan kehamilan tidak hanya dimulai saat seorang perempuan dinyatakan hamil, melainkan sejak masa remaja hingga sebelum pernikahan. Hal tersebut disampaikan oleh Kharisa Vitasari, S.Tr.Kebidanan, atau yang akrab disapa Vita dari RS Sadewa Yogyakarta, dalam acara siaran Kawruh Pro 4 RRI Yogyakarta Kamis 4 Februari 2026 dengan tema Sehatkan Kehamilan, Cerdaskan anak Bangsa: Perjalanan Menuju Indonesia Sehat".
Bidan Vita menjelaskan bahwa upaya mencetak generasi sehat dan bebas stunting sangat ditentukan oleh kesiapan fisik, mental, dan gaya hidup calon orang tua, terutama pada periode 1000 Hari Pertama kehidupan (HPK).
“Stunting itu bukan hanya masalah saat anak lahir, tapi akibat dari persiapan kehamilan yang kurang matang. Bahkan persiapan itu seharusnya dimulai sejak remaja,” ujar Vita, bidan asal Yogyakarta yang telah menekuni profesinya selama 13 tahun.
Ia mengungkapkan, berdasarkan data terkini, angka stunting di Daerah Istimewa Yogyakarta telah mencapai 10,9 persen, lebih rendah dari target nasional sebesar 14 persen. Meski demikian, tenaga kesehatan masih memiliki pekerjaan rumah untuk terus menurunkan angka tersebut.
Menurut Vita, usia ideal untuk merencanakan kehamilan berada pada rentang 21 hingga 35 tahun, karena pada usia tersebut kondisi organ reproduksi dan kematangan mental dinilai paling optimal. Kehamilan di usia terlalu muda maupun di atas 35 tahun memiliki risiko kesehatan yang lebih tinggi bagi ibu dan bayi.
Selain kesiapan usia, faktor gaya hidup juga menjadi perhatian. Anemia, kekurangan energi kronis (KEK), obesitas, kebiasaan merokok, hingga kesehatan mental menjadi aspek yang perlu disaring sejak dini melalui konsultasi pra-nikah dan pra-kehamilan.
“Kami biasanya melakukan pemeriksaan darah rutin, skrining infeksi, indeks massa tubuh, hingga skrining kesehatan mental menggunakan kuesioner EPDS. Semua itu penting agar kehamilan terjadi dalam kondisi ibu yang benar-benar siap,” ujar Bidan Vita.
Dalam kesempatan tersebut, Vita juga menekankan pentingnya kolaborasi antara suami dan istri dalam program kehamilan. Menurutnya, kehamilan bukan tanggung jawab satu pihak, melainkan membutuhkan dukungan dan komitmen bersama, termasuk saat menjalani pemeriksaan medis lanjutan bila belum terjadi kehamilan setelah satu tahun pernikahan.
“Pasangan harus saling mendukung, bukan saling menyalahkan. Pemeriksaan seperti analisis sperma, evaluasi saluran telur, hingga pemantauan ovulasi harus dijalani bersama,” katanya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....