Menatap Wayang Kulit dan Wayang Sambung Melintasi Zaman
- 04 Feb 2026 08:32 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta - Kondisi seni pertunjukan wayang kulit saat ini dinilai mengalami pergeseran makna yang mengkhawatirkan. Fenomena "Barji Barbe" (bubar siji bubar kabeh) menjadi sorotan, di mana pagelaran seringkali hanya mengejar aspek hiburan dan materi tanpa meninggalkan perubahan perilaku bagi penontonnya.
Dalam program siaran "Kawruh" di RRI Pro4 Yogyakarta, Senin, 2 Februari 2026, Prof Dr Muhammad Mukti, MSn dari Afiliasi Pengajar Peneliti Budaya Bahasa Sastra Komunikasi Seni dan Desain (APEBSKID) Yogyakarta sekaligus Akademisi dari UNY, mengungkapkan kegelisahannya terhadap komodifikasi wayang modern yang cenderung mahal dan terjebak pada atraksi akrobatik serta banyolan sensitif.
Sebagai respons atas degradasi nilai tersebut, Prof Mukti menginisiasi Wayang Sambung. Model ini merupakan transformasi seni yang menyambungkan pertunjukan dengan aktivitas dakwah nyata di masjid.
- Revolusi Visual: Tokoh Pandawa digambarkan mengenakan sorban dan jubah, sementara tokoh wanita seperti Dewi Kunthi memakai jilbab.
- Misi Dakwah: Pasca-pertunjukan, penonton diajak melakukan tasykilan (belajar wudhu dan shalat).
- Efisiensi Durasi: Pagelaran dipadatkan menjadi 1-2 jam dengan iringan musik yang diperkaya sholawat dan istighfar.
Senada dengan hal tersebut, praktisi pedalangan dari Universitas Negeri Yogyakarta, Alvian Anggara Mukti menekankan, transformasi adalah proses yang tidak bisa dihindari agar wayang tetap relevan. Namun, ia mengingatkan agar jati diri dan integritas tokoh tetap dijaga.
"Budaya akan selalu diproduksi maknanya sesuai zaman. Namun, yang terpenting adalah jangan sampai kehilangan jati diri, seperti nilai kesetiaan dan kejujuran yang menjadi pilar utama cerita," ujar Alvian.
Alvian menambahkan bahwa tantangan terberat saat ini adalah menjaga eksistensi wayang di tengah melimpahnya opsi hiburan digital. Inovasi seperti Wayang Purwa Padat menjadi titik tengah untuk merangkul generasi modern tanpa meninggalkan etika dan watak asli tokoh wayang.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....