Mau Bebek Petelur Produktif, Ini Rahasia dari Pakar UGM
- 03 Feb 2026 09:26 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta - Menjaga kesehatan ternak bebek menjadi tantangan tersendiri bagi para peternak lokal, terutama pada skala rumahan yang sering kali memiliki keterbatasan fasilitas. Kurangnya pemahaman mengenai manajemen pakan dan kebersihan kandang kerap menjadi pemicu utama kegagalan produksi.
Hal ini dibahas secara mendalam dalam program siaran “Mbangun Desa” di Pro4 RRI Yogyakarta bersama dengan Dosen Fakultas Kedokteran Hewan UGM, Dr. drh. Bambang Sutresno, MP. Ketika mengisi acara, Bambang menjelaskan, kesehatan bebek sangat bergantung pada cara peternak mengelola pakan.
Salah satu ancaman paling serius yang sering diabaikan adalah cemaran mikotoksin atau racun jamur pada pakan. Jamur ini biasanya tumbuh pada sisa-sisa makanan di wadah pakan yang tidak dibersihkan secara rutin.
“Cemaran jamur atau aflatoksin ini sering menyerang bebek. Akibatnya, hati bebek membesar dan berwarna kekuningan. Jika sudah terkena, bebek biasanya berhenti bertelur sepenuhnya,” ujar Bambang.
Selain masalah jamur, Bambang juga menyoroti dua penyakit virus yang sangat mematikan bagi unggas, yaitu Newcastle Disease (ND) atau Tetelo dan Avian Influenza (AI) yang dikenal dengan istilah penyakit mata biru.
Ia memaparkan bahwa gejala klinis keduanya hampir mirip, yakni ditandai dengan pembengkakan pada area wajah. Namun, pada kasus AI, gejala spesifik ditunjukkan dengan perubahan warna mata menjadi biru dan tingkat kematian yang sangat cepat.
Untuk menjaga produktivitas, peternak diminta lebih cermat dalam memberikan nutrisi. Dirinya menyarankan agar kadar protein dinaikkan saat bebek mulai memasuki masa produksi di usia enam bulan.
Ia memberikan rumus paten untuk campuran pakan yang ideal antara konsentrat, jagung, dan katul dengan perbandingan 1:2:3 demi memastikan kebutuhan kalsium dan protein terpenuhi agar cangkang telur tetap kuat dan tulang bebek tidak keropos.
Di sisi lain, kebersihan lingkungan kandang juga memegang peranan vital. Akumulasi kotoran yang menghasilkan amonia tinggi dapat memicu infeksi saluran pernapasan pada ternak. Ia lantas memberikan tips praktis bagi peternak rumahan untuk mengelola limbah kandang, baik dengan cara mengganti sekam secara rutin atau menambahkan bakteri probiotik (EM4) guna mengurangi bau menyengat yang berisiko mengganggu lingkungan sekitar.
“Kuncinya adalah pemberian pakan yang tidak boleh telat serta menjaga sanitasi. Meski bebek lebih tahan banting dibanding ayam, mereka tetap butuh ventilasi, cahaya yang cukup, dan pemberian obat cacing berkala untuk menghindari infeksi dari cacing tanah saat bebek diumbar,” katanya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....