Wayang Sambung, Strategi Ruang Spiritual di Tengah Komersialisasi Seni
- 03 Feb 2026 09:06 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta - Kondisi seni pertunjukan wayang kulit saat ini dinilai telah mengalami pergeseran makna yang mengkhawatirkan, di mana aspek hiburan dan materi jauh melampaui esensi tuntunan spiritualnya. Dalam diskusi mendalam di program siaran "Kawruh" RRI Pro 4 Yogyakarta 2 Februari 2026, Prof. Dr. Muhammad Mukti, M.Sn. dari APEBSKID (Asosiasi Pengajar, Peneliti Budaya, Bahasa, Sastra, dan Komunikasi Desain) Yogyakarta sekaligus akademisi dari Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) , mengungkapkan kegelisahannya terhadap fenomena "Barji Barbe" (bubar siji bubar kabeh), sebuah kondisi di mana setelah pagelaran selesai, baik penonton maupun dhalang pulang tanpa membawa perubahan perilaku atau perbaikan iman. Beliau menilai pagelaran wayang modern cenderung menjadi komoditas yang sangat mahal sehingga tidak lagi bisa dijangkau oleh personal melainkan hanya institusional, dengan atraksi yang sering kali terjebak pada aspek akrobatik yang hampa serta banyolan sensitif yang cenderung pornoaktif.
Sebagai respons nyata atas degradasi nilai tersebut, Prof. Mukti menginisiasi konsep Wayang Sambung, sebuah model transformasi seni yang dirancang sebagai jembatan langsung untuk menyambungkan umat dengan aktivitas nyata di masjid. Gagasan ini sebenarnya telah beliau rancang jauh sebelum tragedi gempa Jogja 2006, namun baru menemukan momentum perwujudannya pasca-bencana tersebut sebagai sarana perbaikan umat.
"Wayang Sambung itu adalah wayang kulit purwa biasa yang disambungkan dengan usaha perbaikan umat, yakni dakwah yang ada di masjid-masjid. Kenapa harus ada ini? Karena wayang sekarang itu hanya untuk hiburan dan materi semata; sabetannya sangat akrobatik, gelak tawanya sensitif, bahkan terkadang sok ngudang sinden padahal bojone sopo," ujarnya.
Wayang Sambung tidak hanya merombak alur cerita menjadi lebih Islami, tetapi juga melakukan revolusi visual pada tokoh-tokoh ikonik agar mampu mendongkrak semangat religi penontonnya.
"Melalui Wayang Sambung, kita buat suasananya religius; gawangnya bertuliskan kalimat Tauhid, Pandawa memakai sorban, jubah, dan memanjangkan janggut, sementara Limbuk hingga Dewi Kunthi memakai jilbab. Tujuannya agar setelah nonton, penonton tidak bubar begitu saja, tapi disambungkan lewat tasykilan atau ajakan masuk ke masjid untuk belajar wudhu, sholat, dan dakwah selama 24 jam," kata Prof. Mukti.
Prof. Mukti menekankan bahwa Wayang Sambung adalah sebuah media kreatif yang bertujuan menghantarkan umat kembali pada maksud tujuan hidup yang sebenarnya. Dengan durasi yang lebih padat (1-2 jam) serta iringan musik yang diperkaya dengan sholawat dan istighfar, beliau berharap seni ini menjadi identitas yang mampu membentengi masyarakat dari pertunjukan yang bersifat sekuler dan kapitalis.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....