"Sistem Surjan", Metode Pertanian Warisan Leluhur, Menjunjung Kearifan Lokal
- 29 Jan 2026 15:55 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta - Di tengah modernisasi pertanian, kearifan lokal masa lampau ternyata menyimpan solusi cerdas dalam pengelolaan lahan. Salah satu metode yang menonjol adalah "Sistem Surjan", sebuah praktik integrated farming (pertanian terpadu) unik yang banyak ditemukan di Kabupaten Kulon Progo, Yogyakarta.
Guru Besar Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof Dr Bambang Suwignyo, dalam siaran "Mbangun Desa" di Pro4 RRI Yogyakarta, Rabu, 28 Januari 2026, menjelaskan bahwa sistem ini merupakan adaptasi cerdas terhadap kondisi alam.
Secara historis, kawasan di Kecamatan Panjatan, seperti Desa Tayuban, Depok, Pleret, dan Bugel, dulunya adalah rawa-rawa yang sulit ditanami. Konon, sistem ini mulai digagas pasca Perang Diponegoro sekitar tahun 1833 pada masa Paku Alam V untuk menyiasati lahan rawa agar produktif.
"Sistem Surjan itu dalam taradisi Jawa itu rasukan atau pakaian. Lirik-lirik, baris-baris seperti itu. Nah, memang itulah yang diadopsi sebagai sistem pertanian," ujar Bambang, menggambarkan filosofi bentuk lahan tersebut.
Berbeda dengan sawah pada umumnya, Sistem Surjan membagi lahan menjadi jalur-jalur memanjang selayaknya motif baju Surjan. Lahan dibentuk menjadi dua ketinggian berbeda: dhuwuran (bagian atas/bedengan tinggi) dan ngisoran (bagian bawah/lembah) dengan lebar masing-masing sekitar lima meter.
Keunggulan utama sistem ini adalah kemampuannya menanam dua jenis tanaman yang kontras secara bersamaan.
"Sing ngisor niku ditanemi pari, sing dhuwur niku saged ditanemi sayuran, jagung, segala macem, lombok, dalam waktu yang sama," ujarnya.
Ia menambahkan, "Sijine nang dhuwur ora bakal kacelep banyu, sijine nang ngisor ora bakal kekurangan banyu," kata Bambang. Hal ini memungkinkan petani tetap panen beragam komoditas tanpa harus menunggu pergantian musim seperti pada sawah konvensional.
Nilai gotong royong
Selain aspek teknis, Sistem Surjan juga sarat akan nilai sosial dan gotong royong. Bambang mengungkapkan fakta menarik bahwa satu jalur memanjang dari ujung ke ujung lahan bisa dimiliki oleh beberapa orang berbeda, namun tata letaknya tetap lurus dan rapi.
Batas antar-lahan pun unik. Jika sawah biasa menggunakan galengan (pematang), sawah Surjan menggunakan tanaman yang dijaga tetap pendek di tengah alur ngisoran sebagai penanda batas. Hal ini menuntut kekompakan antar-petani dalam memilih jenis tanaman dan waktu tanam.
"Nek siji nanam pari terus sijine misale nanam sing ora ramah karo pari misale suket gajah, kan bubar kabeh. Lan iki ora kedadeyan," ucap Bambang.
Keseragaman waktu tanam sangat krusial untuk manajemen hama dan pengolahan tanah. Jika waktu tanam tidak kompak, risiko perpindahan hama dari lahan yang sudah panen ke lahan yang baru tanam akan tinggi, serta menyulitkan proses pembajakan lahan.
Meski berakar dari tradisi, Bambang menilai prinsip Sistem Surjan sangat potensial untuk direplikasi di wilayah lain, khususnya pada lahan gambut atau rawa. Kuncinya terletak pada manajemen drainase dan struktur lahan yang memadukan area basah dan kering.
Sistem ini juga menjadi pengingat pentingnya kembali pada pola pertanian terpadu yang sempat tergerus oleh Revolusi Hijau tahun 60-an yang berorientasi monokultur dan penggunaan pupuk kimia masif. Dengan memadukan tanaman dan ternak, serta pengelolaan lahan yang bijak, tanah dapat "diistirahatkan" dan diberi nutrisi organik, bukan sekadar dipaksa berproduksi dengan asupan kimia semata.
/* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:"Table Normal"; mso-tstyle-rowband-size:0; mso-tstyle-colband-size:0; mso-style-noshow:yes; mso-style-priority:99; mso-style-parent:""; mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; mso-para-margin-top:0cm; mso-para-margin-right:0cm; mso-para-margin-bottom:8.0pt; mso-para-margin-left:0cm; line-height:107%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:"Calibri",sans-serif; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin; mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; mso-bidi-theme-font:minor-bidi; mso-fareast-language:EN-US;}
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....