Pakar UGM: Hilirisasi Minyak Atsiri Indonesia Butuh Sentuhan Teknologi
- 29 Jan 2026 15:38 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta - Indonesia merupakan salah satu negara dengan kekayaan hayati terbesar di dunia dan dikenal luas sebagai penghasil berbagai komoditas minyak atsiri bernilai tinggi. Dari ratusan jenis tanaman aromatik yang tumbuh di Nusantara, minyak nilam menempati posisi strategis karena perannya yang sangat penting dalam industri parfum, kosmetik, farmasi, serta aromaterapi global.
Menurut Prof.Dr.rer.nat.Karna Wijaya,M.Eng dari Laboratorium Kimia Fisika, Departemen Kimia FMIPA UGM di siaran Mbangun Desa Rabu, 28 Januari 2026 mengatakan seiring meningkatnya kesadaran dunia terhadap produk alami, ramah lingkungan, dan berkelanjutan, minyak atsiri Indonesia semakin mendapatkan perhatian.
“Tidak hanya sebagai komoditas perdagangan, tetapi juga sebagai bagian dari pengembangan industri berbasis sumber daya hayati,” ujarnya.
Minyak nilam, yang diekstraksi dari daun tanaman Pogostemon cablin, selama ini menjadi salah satu andalan ekspor Indonesia. Karakter aromanya yang kuat, khas, dan berdaya fiksatif tinggi menjadikannya bahan penting dalam formulasi parfum kelas dunia. Indonesia bahkan dikenal sebagai pemasok utama minyak nilam global. Namun, besarnya potensi ini tidak selalu diiringi dengan kualitas produk yang merata.
Menurut Karna di banyak daerah penghasil, proses penyulingan masih dilakukan secara tradisional dengan peralatan sederhana, sehingga berisiko menurunkan mutu minyak dan menghambat daya saing di pasar internasional.
“Tantangan utama dalam pengembangan minyak nilam nasional terletak pada aspek teknologi pengolahan, standardisasi mutu, dan pemahaman pelaku usaha terhadap prinsip produksi yang berkelanjutan,” ujar dia.
Sulit penuhi standar
Penggunaan alat distilasi berbahan drum besi, misalnya, masih umum dijumpai di tingkat UMKM. Praktik ini berpotensi menyebabkan kontaminasi logam akibat karat, yang berdampak pada tingginya angka keasaman serta perubahan warna minyak menjadi gelap. Kondisi tersebut membuat minyak sulit memenuhi standar mutu nasional maupun internasional, sehingga nilai jualnya menjadi rendah.
“Yogyakarta memiliki keunggulan strategis sebagai pusat pendidikan, riset, dan pemberdayaan masyarakat. Wilayah ini tidak hanya menjadi tempat lahirnya inovasi teknologi, tetapi juga memiliki basis komunitas pelaku usaha kecil yang kuat di sektor pertanian dan agroindustri,“ ujar dia.
Dalam menjawab tantangan tersebut, peran perguruan tinggi dan lembaga riset menjadi sangat penting. Melalui pendekatan berbasis sains dan green chemistry, inovasi teknologi pengolahan minyak atsiri mulai dikembangkan dan diterapkan di tingkat masyarakat. Yogyakarta menjadi salah satu wilayah yang menunjukkan peran aktif dalam pengembangan ini, khususnya melalui kolaborasi antara akademisi, mahasiswa, dan pelaku UMKM dalam meningkatkan kualitas dan keberlanjutan produksi minyak atsiri.
“Salah satu kawasan yang menonjol dalam pengembangan minyak atsiri adalah Samigaluh, Kabupaten Kulon Progo. Daerah perbukitan Menoreh ini memiliki kondisi agroklimat yang sangat cocok untuk budidaya tanaman atsiri, khususnya nilam dan cengkeh,” kata Warna, menjelaskan.
Samigaluh telah lama dikenal sebagai wilayah penghasil tanaman perkebunan rakyat, termasuk cengkeh yang merupakan sumber minyak atsiri bernilai tinggi. Selain cengkeh, budidaya nilam di kawasan ini terus berkembang dan menjadi alternatif sumber pendapatan bagi masyarakat. Kombinasi antara ketinggian wilayah, kesuburan tanah, dan iklim yang relatif stabil menjadikan Samigaluh memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai sentra minyak atsiri berbasis komoditas unggulan lokal.
Peningkatan kualitas
Warna menambahkan, pengembangan minyak atsiri di Samigaluh tidak hanya berfokus pada budidaya, tetapi juga pada peningkatan kualitas pascapanen dan pengolahan. Melalui program transfer teknologi dan pendampingan, pelaku UMKM didorong untuk beralih ke sistem distilasi yang lebih higienis, efisien, dan ramah lingkungan. Penerapan prinsip green process dalam penyulingan minyak nilam dan cengkeh memungkinkan dihasilkannya minyak dengan mutu lebih baik, warna lebih jernih, serta karakter aroma yang konsisten.
Selain meningkatkan kualitas produk, pendekatan ini juga memberikan dampak positif dari sisi lingkungan dan sosial. Proses produksi yang lebih bersih mengurangi limbah dan risiko pencemaran, sementara peningkatan mutu minyak secara langsung berdampak pada naiknya nilai jual produk. Hal ini membuka peluang pasar yang lebih luas bagi UMKM, baik di tingkat nasional maupun internasional, serta memperkuat ketahanan ekonomi masyarakat lokal.
Di sisi lain, minyak nilam dan minyak atsiri lainnya juga memiliki nilai tambah dari aspek fungsional. Minyak nilam dikenal memiliki berbagai manfaat, mulai dari membantu relaksasi, meredakan stres dan kecemasan, hingga dimanfaatkan dalam produk perawatan kulit dan rambut. Kandungan senyawa bioaktif di dalamnya memberikan sifat antiradang, antimikroba, dan menenangkan sistem saraf.
Nilai fungsional ini semakin memperluas peluang hilirisasi minyak atsiri, tidak hanya sebagai bahan baku mentah, tetapi juga sebagai komponen utama dalam produk turunan bernilai tinggi.
Tren global yang mengarah pada penggunaan bahan alami dan produk berkelanjutan semakin memperkuat prospek minyak atsiri Indonesia. Konsumen dunia kini tidak hanya mempertimbangkan kualitas aroma, tetapi juga memperhatikan aspek keberlanjutan, asal bahan baku, serta dampak sosial dari produk yang mereka gunakan.
Dalam konteks ini, pengembangan minyak atsiri berbasis komunitas seperti di Samigaluh menjadi contoh nyata bagaimana komoditas lokal dapat dikembangkan secara berkelanjutan dan berdaya saing.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....