Kucing Susah Pipis? Kenali Gejala dan Penyebab FLUTD

  • 21 Jan 2026 10:52 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta - Memelihara kucing bukan sekadar memberi makan dan minum, melainkan juga memerlukan kepekaan terhadap perilaku keseharian hewan kesayangan tersebut. Salah satu masalah kesehatan yang sering mengancam namun kerap terlambat disadari oleh pemilik adalah gangguan perkencingan atau Feline Lower Urinary Tract Disease (FLUTD).

Dalam dialog "Bangun Deso" di Pro4 RRI Yogyakarta, Jumat, 16 Januari pekan lalu, dokter dari Fakultas Kedokteran Hewan UGM dan RS Hewan Prof Soeparwi, drh Agung Budi Pramono, MS., menjelaskan, gangguan pada kucing ini bisa berakibat fatal jika tidak segera ditangani.

Drh Agung mengungkapkan bahwa banyak pemilik kucing datang ke klinik dengan keluhan kucing mereka susah Buang Air Besar (BAB) karena terlihat terus mengejan (ngeden). Namun, setelah diperiksa, ternyata kantong kemih kucing tersebut sudah membesar sebesar bola tenis akibat sumbatan urin.

"Tanda-tanda awal yang paling mudah dikenali adalah melihat kondisi litter box (kotak pasir). Jika kotak pasir tetap kering atau kucing jongkok sangat lama tapi urin tidak keluar, itu tanda bahaya. Kadang urin keluar sedikit-sedikit atau 'anyang-anyangen', bahkan hingga bercampur darah," ucap Agung.

Kondisi ini lebih sering menyerang kucing jantan karena secara anatomi saluran perkencingannya (uretra) lebih panjang dan sempit dibandingkan kucing betina, sehingga lebih mudah tersumbat oleh kristal urin atau batu.

Selain faktor fisik, Agung menekankan bahwa kucing adalah hewan "introvert" yang sangat rentan terhadap stres. Kondisi psikis yang terganggu akibat lingkungan baru, adanya "bully" dari kucing lain, atau terlalu lama dikurung di kandang sempit dapat memicu gangguan perkencingan.

"Istilahnya idiopathic syndrome. Stres pada kucing bisa memicu peradangan saluran kencing. Oleh karena itu, pemilik harus mengajak kucing bermain dan tidak mengandangkannya selama 24 jam penuh," katanya

Selain stres, pemilihan makanan juga sangat berpengaruh. Pemilik diimbau untuk memperhatikan label kandungan mineral, terutama magnesium, pada pakan kucing. Kadar mineral yang terlalu tinggi tanpa diimbangi asupan air minum yang cukup akan mempercepat

Keterlambatan penanganan lebih dari dua hari dapat menyebabkan uremia, yaitu kondisi di mana racun urin masuk ke dalam aliran darah. Gejalanya meliputi kucing menjadi lemas, muntah-muntah, hingga ambruk.

"Jika sudah terjadi sumbatan total, prosedurnya bisa melalui pemasangan kateter hingga tindakan bedah. Ingat, tidak ada BPJS untuk kucing, jadi biaya pengobatan bisa cukup mahal. Pencegahan melalui kontrol makanan, kebersihan kandang, dan pengelolaan stres jauh lebih baik," ujarnya.

Ia berpesan agar para pemilik segera membawa kucing ke dokter hewan jika melihat perilaku tidak wajar saat kencing sebelum berdampak pada kerusakan organ lain seperti ginjal.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....