Mbah Gombloh, Pengrajin Gamelan di Bantul sejak 1983

  • 26 Jan 2026 17:57 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta – Alat musik gamelan di DIY bukan sekedar alat musik, melainkan simbol warisan budaya jawa yang hidup berkat dedikasi pengrajin lokal. Sejak tahun 1983 bengkel gamelan di Puncak Bibis, Desa Bangunjiwo, Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul menghasilkan pengrajin gamelan yang pandai hingga ke mancanegara.

Salah satu pengrajin gamelan di Bantul yang masih menekuni usahanya adalah Gito Siswoyo atau kerap di panggil dengan panggilan Mbah Gombloh. Dari tangannya, logam yang awalnya tak berbentuk kemudian diolah menjadi instrumen yang mampu menghidupkan pertunjukan musik tradisional.

Pengrajin Gamelan, Gito Siswoyo atau Mbah Gombloh mengatakan bahwa bengkel miliknya ini tidak hanya melayani pesanan lokal. Sejak era Presiden Soeharto mbah gombloh mengaku bahwa pernah mengerjakan puluhan set gamelan.

“Kita pernah mengerjakan proyek gamelan untuk dikirim ke Jerman, Malaysia, Sumatera Selatan, Lampung dan Pekanbaru. Kita juga sering dapat projek dari Dinas Kebudayaan untuk dikasih ke sekolah – sekolah yang ada di jogja,”ucapnya.

Usaha yang ia jalankan selama puluhan tahun membuahkan hasil, padahal ia mengaku bahwa dalam mendirikan usaha ini tidak pernah melakukan promosi. Usahanya dikenal banyak orang berdasarkan dari pengalaman yang pernah membeli gamelan di tempatnya.

Proses pembuatan gamelan miliknya membutuhkan ketelitian yang tinggi, seperti perunggu dan timah untuk dicampur dalam membuat gong, sementara saron dibuat sesuai dengan permintaan dari pelanggan. Pembuatan satu set gamelan memakan waktu sesuai target yang diberikan oleh pembeli.

“Kalau mereka mintanya satu bulan ya kita usahakan satu bulan. Kalau misalkan permintaannya banyak dan waktunya sebentar saya bakalan cari orang untuk membantu untuk membuat gamelan ini,”kata mbah gombloh.

Dalam mempertahan usaha miliknya ia mengaku bukanlah hal yang mudah baginya, terutama ia harus bersaing dengan alat musik modern. Dengan modal yang besar, harga bahan baku yang tinggi serta persaingan dengan alat musik modern menjadi tantangan utama.

Meskipun begitu, minat masyarakat terhadap gamelan tradisional tetap ada akan tetapi tidak sebanyak ketika alat musik modern belum ada. Setiap tahun, bengkel miliknya menerima pesanan yang bervariasi, dari satu set hingga puluhan set dengan harga mulai Rp450.000, tergantung dengan bahan dan ukuran yang digunakan.

“Tujuan kami jelas, nguri – nguri budaya dan menjaga suara gamelan tetap hidup,”tambahnya. Dengan ketekunan, menjaga kualitas serta dedikasi terhadap warisan budaya, bengkel miliknya ini tetap relevan dan menjaga usaha kebanggan lokal (Victorio Firsta).

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....