Review Film The Odyysey: Kemenangan sekaligus Kehilangan

  • 28 Jul 2026 17:31 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta - Christopher Nolan kembali membawa karya spektakuler. Ia berhasil mengubah kisah klasik berdasarkan mitologi Yunani berusia 3000 tahun milik Homer, menjadi sebuah karya dengan pengalaman audiovisual yang megah, sekaligus reflektif.

Film berdurasi panjang, 2 jam 52 menit, besutan Christopher Nolan hadir dalam Film The Odyysey yang mulai tayang di bioskop pada 17 Juli 2026 lalu. Secara visual, The Oddysey menawarkan kualitas yang luar biasa. Pengambilan gambar dengan format IMAX 70 mm menghasilkan lanskap laut, badai dan dunia mitologi yang terasa begitu imersif.

Bagi Nolan, menghadirkan gambar yang diambil dari kamera IMAX 70 mm, tanpa Computer-Generated Imagery (CGI), tak lain adalah untuk memberikan suguhan imersif bagi penonton bioskop. Walaupun, tak sedikit juga yang mengkiritik. Namun, itulah Nolan dengan idealismenya.

Alih-alih sekadar menghadirkan petualangan pulang kampung Odysseus setelah Perang Troya, Nolan menjadikannya kisah tentang trauma perang, penebusan dosa hingga pencarian jati diri. Bagi penonton yang mengharapkan adaptasi setia terhadap epos karya Homer, beberapa perubahan cukup mencolok. Tak sedikit cerita yang dibuang oleh Nolan untuk menghadirkan kisah sesuai naskahnya. Namun, lagi-lagi, kisah Odyyseus adalah fiksi adaptasi. Musik Ludwig Goransson memperkuat ketegangan sekaligus kesunyian perjalanan Odysseus.

Nolan menyederhanakan atau menghilangkan sejumlah tokoh dan peristiwa penting, serta lebih menekankan sisi psikologis daripada unsur mitologi. Namun, itu semua tak mengurangi inti dari cerita, yaitu perjuangan Odyyseus untuk kembali bersama Penelope, istri yang ia cintai.

Christopher Nolan tampaknya ingin menghadirkan kisah The Odyssey dalam bentuk yang lebih mudah diterima oleh masyarakat modern. Melalui pendekatan khasnya, ia berupaya menyajikan narasi yang tetap menghormati karya epik karya Homer, tetapi dengan pengemasan yang lebih relevan bagi penonton masa kini.

Selain itu, Nolan juga diperkirakan akan memberikan pendalaman pada setiap karakter, sehingga masing-masing tokoh memiliki motivasi, konflik, dan perkembangan yang lebih kuat. Pendekatan ini diharapkan mampu membuat penonton lebih terhubung secara emosional dengan perjalanan para tokohnya, tanpa menghilangkan esensi dari kisah klasik tersebut.

Sang Oddyseus, kemenangan sekaligus rasa kehilangan

Matt Damon tampil meyakinkan sebagai sosok pahlawan yang tidak lagi digambarkan sempurna, melainkan rapuh dan dibayangi rasa bersalah. Karakternya kuat memunculkan karakter sosok pemimpin yang tenang dan penuh pergulatan batin. Walau penuh perjuangan dalam menghadapi berbagai monster, penyihir bahkan dewa seusai Perang Troya, tapi Oddysey selalu berhasil melewatinya. Namun, ketika berhadapan dengan Calypso, ia tak berdaya, hingga mampu menahannya selama 7 tahun di pulau tempat Calypso tinggal. Di sinilah, penggambaran Oddyseus oleh Nolan dimunculkan sebagai sosok yang rapuh.

Layaknya seorang manusia, mendapati godaan kenyamanan, keabadian dan kenikmatan sesaat. Calypso membuatnya lengah dan terlena, hingga Oddyseus lupa mencari jalan pulang.

Barangkali itulah yang dilihat Nolan. Perang memberi Odyyseus kemenangan, tapi perlahan merenggut identitas lain yang pernah ia miliki. Nolan berhasil membuat The Oddysey tetap terasa dekat dengan manusia hari ini.

Anne Hathaway yang berperan sebagai Penelope, seorang istri yang setia dan tangguh, menjalani penantian selama 20 tahun dan berjuang menghadapi para pelamar yang ingin merebut tahta. (Foto: hasil tangkap layar dalam unggahan akun instagram @theodyyseusmovie)

Anna Hathaway pun tampil anggun sebagai sosok istri yang setia sekaligus tangguh. Kekuatan Hathaway selama ini terletak pada kemampuannya menyampaikan emosi lewat tatapan dan gestur yang sederhana. Perannya sebagai Penelope, istri Oddyseus yang tidak banyak bicara, tetapi kehadirannya menjadi pusat emosi film.

Tom Holland memiliki energi yang berbeda. Kehadirannya sebagai Telemachus, putra Odyyseus menjawab semua rasa penasaran penonton. Ia mampu memainkan peran anak muda yang penuh rasa ingin tahu, termasuk rasa penasaran akan keberadaan Oddyseus yang telah pergi selama 20 tahun.

Dua tokoh perempuan lainnya yang juga menjadi perhatian dalam film ini adalah Athena, yang diperankan oleh Zendaya. Athena sosok yang mendampingi Oddyseus secara kasat mata, tapi bisa digambarkan sebagai sahabat dari pergulatan batinnya Odyyseus.

Satu lagi yang memunculkan banyak kritikan adalah Helen yang diperankan oleh Lupita Nyong’O. Alih-alih memilih perempuan yang berkulit putih, tinggi, langsing dan cantik. Tanpa bermaksud rasis, Helen dalam versi Homer, adalah penyebab perang. Di sinilah, Nolan seolah ingin membuat penegasan bahwa ini bukan soal Helen. Laki-lakilah yang menginginkan perang. Laki-laki menginginkan kemenangan juga kekuasaan. Perang terjadi bukan sebab karena perempuan.

Satu hal yang menjadi catatan penulis, melalui The Odyysey, Nolan mampu memberikan sudut pandang tentang penerimaan diri, perlawanan terhadap ego dan keikhlasan. Seperti apa yang telah dipesankan Calypso terhadap Odyyseus. “Kamu adalah pria yang ingin mengendalikan segalanya. Tapi, kamu tidak bisa mengendalikan ini. Kamu harus menyerahkan dirimu kepada badai, menyerahkan dirimu kepada Poseidon. Terimalah hukumanmu. Ini adalah keyakinan yang belum kamu lakukan, Odyyseus,’’ kata Calypso kepada Odyyseus saat bersedia melepasnya karena perintah Zeus.

The Odyssey tetap menjadi salah satu film epik paling ambisius tahun ini. Nilainya 9,5 dari skala 10. Nolan berhasil menyuguhkan tontonan yang spektakuler tanpa kehilangan ruang untuk mengajak penonton merenungkan makna "pulang" bukan sekadar kembali ke rumah, tetapi berdamai dengan masa lalu dan menemukan kembali diri sendiri.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....