Ekosistem Kendaraan Listrik di Indonesia Hadapi Tantangan

  • 21 Jul 2026 11:26 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta – Muhammadiyah ingin membangun 2 ribu Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Muhammadiyah (SPKL-MU) di berbagai daerah. Rencana ini, untuk mendukung transisi energi yang lebih bersih.

Pakar Kelistrikan Cerdas Terbarukan UMY, Tony Hariadi berharap, rencana itu tidak sekedar mengandalkan pembangunan infrastruktur pengisian daya. Namun juga harus diimbangi penguatan ekosistem kendaraan listrik.

”Pembangunan 2 ribu SKPL-MU akan mempercepat perkembangan ekosistem kendaraan listrik nasional,” ujarnya melalui pernyataan tertulis, Selasa, 21 Juli 2026. ”Tetapi ini hanya sebagian saja, karena memang bukan satu-satunya.”

Dibandingkan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU), jumlah Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) di Indonesia masih terbatas. Kondisi ini membuat pengguna kendaraan listrik harus lebih cermat merencanakan perjalanan.

Selain keterbatasan jumlah, waktu pengisian daya juga masih menjadi tantangan. Jika kendaraan berbahan bakar minyak hanya memerlukan sekitar lima menit untuk mengisi tangki, kendaraan listrik butuh waktu 15 hingga 20 menit untuk mengisi daya.

”Penambahan 2 ribu titik tentu bisa mengurangi antrean dan memudahkan pengisian daya,” katanya. ”Namun, persoalan ekosistem kendaraan listrik jauh lebih luas, daripada sekadar memperbanyak pembangunan tempat pengisian daya.”

Menurut Tony, ekosistem kendaraan listrik juga mencakup berbagai hal yang perlu direalisasikan. Meliputi kesiapan industri baterai, ketersediaan jaringan bengkel, layanan purna jual, hingga kematangan teknologi baterai di kendaraan listrik.

”Masyarakat masih mempertimbangkan kondisi baterai setelah 10 atau 15 tahun,” katanya. ”Terus berapa biaya penggantiannya, dan di mana layanan perbaikannya tersedia, hal ini sangat menentukan kecepatan adopsi kendaraan listrik di Indonesia.”

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....