Viral Kasus Nadhif Basalamah, Etika Komunikasi Lemah

  • 03 Jul 2026 15:34 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta – Pakar Komunikasi UMY Fajar Junaedi menyoroti lemahnya etika komunikasi dan literasi digital, di kalangan netizen Indonesia. Hal ini terkait kasus pelecehan verbal terhadap musisi muda Nadhif Basalamah di media sosial.

”Soal etika komunikasi dan literasi digital, masih jadi pekerjaan rumah yang besar di Indonesia,” katanya, Jumat, 3 Juli 2026. ”Sejumlah komentar tentang Nadhif mengandung berbagai ungkapan tidak pantas yang melampaui batas kesopanan di ruang digital.”

Melalui akun X pribadinya, pelantun lagu ”Kota Ini Tak Sama Tanpamu” mengungkapkan, jika dirinya menjadi sasaran pelecehan seksual verbal di dunia maya. Bahkan, berdampak langsung pada kondisi psikologis Nadhif Basalamah.

Fajar pun menganggap, ruang digital belum sepenuhnya aman, sehat, dan beradab bagi setiap individu. Padahal seharusnya, ruang digital bisa menjadi tempat bertukar gagasan, memberikan apresiasi, maupun kritik yang membangun.

”Etika komunikasi mengajarkan, setiap individu harus diperlakukan sebagai subjek yang punya hak, perasaan, dan martabat yang wajib dihormati,” ujarnya. ”Jika seseorang direduksi menjadi objek fantasi melalui komentar yang tidak pantas, komunikasi telah bergeser menjadi dehumanisasi.

Ia menjelaskan bahwa dalam teori etika deontologi yang dikembangkan filsuf Immanuel Kant, tindakan tersebut bertentangan dengan prinsip moral universal. Deontologi menegaskan bahwa manusia harus diperlakukan sebagai tujuan pada dirinya sendiri, bukan sebagai alat kepuasan pihak lain.

”Maka, komentar yang mengandung pelecehan seksual tidak dapat dibenarkan meskipun pelakunya berdalih hanya bercanda atau tidak memiliki niat buruk. Secara moral, tindakan tersebut tidak menghormati sesama manusia.”

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....