Cegah kekerasan seksual, literasi seksualitas Islami harus sejak dini

  • 26 Jun 2026 20:23 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta - Pendidikan seks masih kerap dianggap sebagai topik yang tabu di tengah masyarakat. Padahal, minimnya pemahaman mengenai seksualitas justru dapat meningkatkan kerentanan anak, remaja, hingga mahasiswa terhadap kekerasan seksual.

Akibatnya, banyak generasi muda tumbuh tanpa memiliki pemahaman yang memadai mengenai batasan dalam berinteraks. Termasuk hak atas tubuhnya sendiri, maupun cara mengenali tindakan yang tergolong sebagai kekerasan seksual.

Guru Besar UMY Profesor Akif Khilmiyah menegaskan, literasi seksualitas perlu diberikan sejak dini melalui pendekatan yang selaras dengan nilai-nilai Islam. Pendidikan seks bukan bertujuan mengajarkan perilaku seksual, melainkan membekali seseorang agar mampu menjaga diri dan menghormati orang lain.

”Pendidikan seks masih sering dianggap tabu, sehingga persoalan tidak pernah dibahas,” katanya dalam diskusi publik di UMY, Jumat, 26 Juni 2026. ”Ketika seseorang tidak memahami tubuhnya bekerja, batas-batas dalam berinteraksi, maupun risiko dari perilaku seksual, ia menjadi rentan terhadap berbagai bentuk kekerasan.”

Literasi seksualitas ini bukan mengajarkan perilaku seksual, tetapi memberikan pengetahuan agar seseorang mampu menjaga dirinya sesuai nilai-nilai Islam. Menurut Profesor Akif, literasi seksualitas Islami tidak hanya membahas aspek biologis reproduksi.

Tetapi juga menanamkan nilai-nilai moral, tanggung jawab, rasa malu, serta penghormatan terhadap martabat manusia. Melalui pemahaman tersebut, peserta didik diharapkan mampu membedakan interaksi yang sehat dengan perilaku yang mengarah pada pelecehan maupun eksploitasi seksual.

Ia menilai, pendidikan mengenai seksualitas perlu diberikan secara bertahap sesuai dengan usia peserta didik, dimulai dari lingkungan keluarga hingga satuan pendidikan. Materi yang disampaikan harus disesuaikan dengan tahap perkembangan anak.

”Agar mereka memiliki bekal untuk mengenali berbagai modus kekerasan seksual,” ujarnya. ”Termasuk praktik manipulasi psikologis yang kini semakin marak.”

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....