Kapitalisme Religius, Strategi Pembangunan Alternatif untuk Negara Islam
- 06 Jun 2026 14:35 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta – Penulis buku Kapitalisme Religius: Peradaban Islam Masa Depan, Dr. Suwarsono Muhammad, menawarkan perspektif baru untuk membaca dinamika peradaban Islam. Ia mengkritisi dominasi sosialisme religius, yang dijadikan strategi pembangunan di negara-negara Islam.
Ia memaparkan pendapatnya itu, dalam acara bedah buku Kapitalisme Religius: Peradaban Islam Masa Depan, di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Rabu, 3 Juni 2026. Sebagai sebuah strategi pembangunan, Sosialisme Religius sudah tidak relevan dengan perkembangan jaman.
”Karena, Sosialisme Religius merupakan produk historis dari era pascakolonial sekitar tahun 1945,” katanya. ”Saat itu, dunia berada dalam konfigurasi bipolar dan sosialisme memang menjadi ideologi negara-negara berkembang.”
Dalam buku karyanya setebal 375 halaman, Suwarsono mengaitkan gagasan tersebut dengan dua peristiwa besar yang mengubah arah peradaban dunia. Yaitu, melemahnya hegemoni Amerika Serikat dan bangkitnya China.
”China mampu bangkit sebagai kekuatan ekonomi global dalam kurun waktu kurang dari empat dekade,” ujarnya. ”Terutama sejak era reformasi ekonomi Deng Xiaoping.”
Terkait pembacaan atas perubahan geopolitik tersebut, Suwarsono mengajukan tesis. Ia menyebut, kapitalisme religius menjadi sebuah alternatif yang lebih historis, sekaligus relevan bagi perkembangan dunia Islam saat ini dan ke depan.
Ia menelusuri akar kapitalisme dalam sejarah peradaban Islam melalui beberapa fase perkembangan ekonomi. Praktik kapitalisme telah hadir jauh sebelum peradaban Islam muncul, melalui jaringan perdagangan yang berkembang di Timur Tengah.
“Fase pertama adalah kapitalisme perdagangan pra-Islam, yang ditandai dengan munculnya kota-kota perdagangan seperti Petra dan Palmyra,” katanya. ”Setelah Islam hadir, praktik ekonomi tersebut berubah menjadi kapitalisme negara.”
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....