Haedar Nashir: Teori dan Realitas Politik Masih Timpang
- 19 Apr 2026 09:36 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta – Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir menilai, terjadi kesenjangan antara teori dengan realitas politik. Dalam banyak kasus, teori belum mampu menangkap realitas secara utuh.
”Bahkan gagal menjelaskan realitas tersebut secara konstruktif sebagaimana adanya,” katanya, saat menghadiri pengukuhan Guru Besar Ridho Al-Hamdi di UMY, Kamis, 16 April 2026. ”Karena adanya jarak antara teori dan realitas.”
Dalam kajian ilmu politik terdapat beragam pendekatan, seperti sistem politik, budaya politik, dan perilaku politik. Namun, jika pendekatan-pendekatan tersebut tidak dikembangkan secara integratif, pemahaman terhadap fenomena politik akan parsial.
Maka, pendekatan yang lebih mendalam menjadi penting dilakukan, agar ilmuwan memahami realitas dalam konteksnya. Sehingga, ilmu tidak hanya berhenti pada kerangka teoretis, tetapi juga mampu menjelaskan kondisi nyata di masyarakat.
Selain itu, Haedar juga menyoroti perbedaan karakter pendekatan ilmu politik di Barat. Pendekatan di Amerika Serikat cenderung kuat pada aspek metodologi dan pragmatisme, sementara Eropa lebih menekankan dimensi filsafat dan epistemologi.
Dalam konteks tersebut, Haedar mengingatkan agar akademisi tidak serta-merta mengadopsi teori dari luar tanpa mempertimbangkan konteks lokal. Pemahaman terhadap realitas sosial dan budaya sendiri menjadi kunci agar ilmu yang dikembangkan relevan.
”Kita harus memahami realitas kita sendiri,” katanya. ”Jika tidak, kita hanya akan terjebak dalam ‘menara gading’ dengan teori yang tidak selalu sesuai dengan kondisi masyarakat.”
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....