Mendedah Perbedaan Berusia Ratusan Tahun, Catatan Seorang Sunni di Tanah Syi’ah

  • 09 Mar 2026 10:14 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID., Yogyakarta: - Di akhir Februari 2026, dunia kembali menoleh ke Iran. Pemimpin tertinggi negara itu, Ayatollah Ali Khamenei, dilaporkan tewas dalam serangan udara yang mengguncang Teheran.

Di Iran, jutaan orang berkabung dan pemerintah menetapkan masa duka selama 40 hari. Namun, kejadian itu tak hanya membuat riuh media sosial, sekaligus memantik kembali perdebatan lama mengenai Syi’ah dan Sunni. Bahkan tak jarang, bermunculan informasi hoaks ataupun teori konspirasi yang justru makin menyalakan bara perdebatan baik tentang Syiah-Sunni, maupun isu persoalan geopolitik yang rumit.

Di tengah situasi seperti itu, ada buku yang terasa menarik untuk dibaca kembali, yaitu buku ‘’Lelaki Sunni di Kota Syiah’’ karya Iqbal Aji Daryono, penulis sekaligus traveler yang sudah menjelajahi lebih dari 25 negara.

Buku yang terbit tahun 2024 itu menawarkan sudut pandang yang berbeda, bukan dari ruang debat, melainkan dari pengalaman secara langsung di Negeri Syi’ah, di Karbala Irak tepatnya.

Iqbal seorang Sunni yang merupakan warga persyarikatan Muhammadiyah, berani melakukan perjalanan ke negeri Syi’ah, untuk membongkar kesalahpahaman yang selama ini sering ia dengar, baik dari tuduhan menabikan Sayyidina Ali bin Abi Thalib, hingga haji di Karbala. Iqbal yang berdomisili di Yogyakarta, memulai perjalanannya, dengan mengikuti Ziarah Arbain dari Najaf hingga Karbala, berjalan kaki bersama jutaan peziarah Syi’ah.

Ziarah Arbain sendiri merupakan peringatan rutin tahunan hari ke-40 atas syahidnya Sayidina Husain, cucu Rasulullah SAW. Dari sinilah, Iqbal mulai menceritakan kisah pertemuannya dengan orang-orang Syi’ah, tentang dapur umum yang ia temui sepanjang perjalanan, dan juga kisah kerelaan berkorban pemeluk Syi'ah untuk para peziarah.

Ditemani oleh dua kawan Syi’ah yang ia kenal melalui online, Iqbal mengalami sendiri bagaimana seorang Sunni bisa diterima dengan baik oleh Syi’ah. Pertemuannya dengan Syaikh Jalaluddin Ali al-Saghir, salah satu ulama di kalangan Syi’ah yang mewakili penandatanganan Dokumen Makkah tahun 2006 tentang Deklarasi Kerukunan Sunni-Syi'ah, juga menjadi kejutan bagi Iqbal.

‘’Syi’ah dan Sunni itu saudara, satu tubuh,’’ kata Syaikh Jalal yang Iqbal rekam dengan jelas.

Tak hanya melalui tulisan, di buku ini ia juga berkisah melalui foto-foto yang ditangkap selama perjalanan, sehingga pembaca akan ikut merasakan suasana haru peziarah. Buku ini tidak berpretensi menjadi buku kajian, tentu kurang lengkap jika menjadikannya sebagai penjelasan akademik tentang konflik. Namun, buku ini bisa menjadi catatan reflektif perjalanan yang membuka ruang empati bagi setiap pembacanya.

Rekomendasi Berita