Aksi Teatrikal Jogja Corruption Watch Soroti Nasib Stadion Mandala Krida

  • 20 Mei 2026 08:54 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta - Ketidakjelasan tahap renovasi Stadion Mandala Krida pasca kasus rasuah yang terjadi, mengundang keprihatinan aktivis anti korupsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Melalui aksi teatrikalnya, Aktivis Jogja Corruption Watch (JCW) Baharuddin Kamba mendesak kejelasan status hukum stadion kebanggaan warga Kota Yogyakarta itu.

Dalam aksinya, Kamba membawa sejumlah atribut yang menggambarkan kondisi Mandala Krida saat ini. Seperti lampu teplok, lembaran uang mainan berukuran besar dan kaca pembesar.

Bukan sekadar properti, tetapi lampu teplok yang digunakan sebagai penerangan masyarakat jaman dulu yang dibawa, menyimbolkan bahwa kondisi status hukum Stadion Mandala Krida saat ini masih gelap gulita tanpa kepastian. Sementara uang mainan menjadi tamparan bagi praktik korupsi yang menggerogoti proyek renovasi tersebut dan berdampak luas sekaligus menjadi simbol lemahnya pengawasan tata kelola proyek.

"Kami sudah sering menyampaikan bahwa korupsi ini berdampak langsung. Yang dirugikan bukan hanya negara, tapi juga manajemen, pemain, dan suporter," katanya, Selasa, 19 Mei 2026.

Kamba mengungkapkan, aksi teatrikal ini dilakukan karena hingga kini belum memberikan kepastian hukum yang jelas terkait status penggunaan stadion. Ketidakpastian kasus yang telah lama dikawal JCW itu, menyebabkan kondisi tersebut dinilai berdampak langsung terhadap PSIM Jogja yang belum bisa menggunakan Stadion Mandala Krida sebagai kandang.

Apabila sudah ada kepastian tertulis dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), lanjut Kamba, maka manajemen, pemain, hingga suporter PSIM Jogja dapat kembali memanfaatkan Stadion Mandala Krida sebagai stadion kebanggaan masyarakat DIY.

"Kami dari Jogja Corruption Watch sudah mengawal kasus ini sejak lama. Tetapi hingga saat ini belum ada kepastian dari KPK yang menangani kasus ini," ucapnya.

Kamba merasa jika kasus yang terjadi di Stadion Mandala Krida ini memiliki dampak nyata bagi PSIM Jogja. Tak hanya kerugian materiil, tapi kerugian immateriil langsung dirasakan oleh manajemen tim, pemain, hingga suporter setia Laskar Mataram.

"Kami bisa bayangkan, masyarakat Jogja yang selama ini bangga dengan Mandala Krida, timnya justru harus terusir dan bermain di luar kandang (musafir). Secara otomatis, cost atau biaya yang ditimbulkan membengkak. Ini sangat merugikan," ujarnya.

JCW juga mendesak Pemerintah Daerah (Pemda) DIY maupun Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta, agar segera bersurat kepada KPK guna meminta kepastian terkait boleh tidaknya Stadion Mandala Krida digunakan kembali. Karena menurut Kamba, ketidakjelasan tersebut juga berdampak pada rencana hibah lampu stadion yang sebelumnya sempat diwacanakan oleh Wali Kota Hasto Wardoyo.

"Kalau kasus ini terus tidak ada kejelasan, yang dirugikan ya PSIM sendiri. Maka penting ada kepastian hukum apakah stadion ini boleh digunakan atau tidak," ucapnya.

Di sisi lain, Direktur Utama PSIM Jogja Yuliana Tasno mengatakan, setelah melihat secara langsung keluhan para suporter saat timnya bertanding melawan Madura United di Stadion Sultan Agung (SSA), Bantul, Minggu (17/5) malam lalu. Pihak manajemen juga langsung berupaya supaya tim yang lahir pada tanggal 5 September 1929 silam itu bisa kembali berkandang ke Stadion Mandala Krida.

"Kami sama-sama untuk mau pulang ke Mandala Krida," ujarnya.

Sebelumnya, Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo juga berharap titik terang dalam kelanjutan proses renovasi fisik Stadion Mandala krida dapat segera terwujud. Menurutnya, dengan bisa dilanjutkan kembali proses renovasi, tahapan bisa lebih dipercepat dan bisa kembali menjadi homebase PSIM Jogja.

"Saya tetap sama, jadi kalau seandainya lampu itu bisa terpisah dengan gedung, saya akan berusaha untuk bagaimana lampu bisa diwujudkan yang tidak harus bersentuhan dengan bangunan," ujarnya, mengungkapkan.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....