Laga Dipindah Mendadak, Suporter PSIM Kecewa Berat
- 25 Apr 2026 05:52 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta - Pemindahan mendadak laga Perserikatan Sepak bola Indonesia Mataram (PSIM) Yogyakarta ke Bali memicu kekecewaan luas di kalangan suporter. Keputusan tersebut tidak hanya memengaruhi atmosfer pertandingan, tetapi juga menyoroti persoalan mendasar dalam tata kelola sepak bola nasional yang dinilai masih belum stabil dan transparan.
Perubahan venue yang terjadi secara tiba-tiba disebut menjadi pukulan bagi banyak pihak, terutama suporter yang telah lama menantikan pertandingan tersebut. Laga melawan Persija Jakarta dianggap sebagai momen langka yang memiliki nilai emosional tinggi, khususnya bagi pendukung di Yogyakarta.
Guntur, Show Director Madness YKFest 2026 sekaligus bagian dari kolektif suporter, menilai keputusan ini mengabaikan antusiasme publik. “Ini bukan sekadar pertandingan biasa. Sudah lama ditunggu suporter, jadi ketika dipindah mendadak, wajar kalau banyak yang kecewa,” ujarnya.
Menurut Guntur, dampak pemindahan laga tidak hanya dirasakan oleh suporter tuan rumah, tetapi juga pendukung tim tamu yang telah merencanakan perjalanan jauh hari. Banyak di antaranya sudah mengeluarkan biaya untuk transportasi, akomodasi, hingga konsumsi selama berada di Yogyakarta. Kondisi ini memperlihatkan bagaimana sepak bola memiliki efek ekonomi yang signifikan bagi daerah.
Fenomena tersebut, katanya, menjadi bukti bahwa sepak bola modern tidak berdiri sendiri sebagai olahraga, melainkan bagian dari ekosistem ekonomi yang lebih luas. “Suporter sekarang datang bukan cuma nonton bola. Mereka menggerakkan ekonomi daerah. Ini yang seharusnya jadi perhatian pembuat kebijakan,” katanya.
Selain sektor ekonomi, dampak juga dirasakan oleh penyelenggara kegiatan komunitas seperti Madness YKFest 2026 yang harus menyesuaikan jadwal. Sejumlah penonton bahkan dilaporkan mengajukan pengembalian dana tiket. Kekecewaan semakin bertambah setelah laga yang dipindahkan ke Bali diputuskan berlangsung tanpa kehadiran penonton. “Sudah dipindah, tanpa penonton pula. Suporter jadi benar-benar kehilangan momen,” ucapnya.
Guntur juga menyoroti minimnya transparansi komunikasi terkait keputusan tersebut. Ia menilai informasi pemindahan laga disampaikan terlalu dekat dengan hari pelaksanaan, sehingga menyulitkan banyak pihak untuk beradaptasi. “Keputusan sebesar ini seharusnya dikomunikasikan lebih awal, bukan mendadak. Ini menyangkut banyak pihak,” tegasnya.
Lebih jauh, ia menyinggung lemahnya posisi tawar panitia pelaksana dalam berkoordinasi dengan pihak terkait, termasuk soal keamanan dan perizinan. Di sisi lain, persoalan infrastruktur seperti kesiapan Stadion Mandala Krida juga kembali menjadi sorotan. Ia menegaskan pentingnya keseriusan dalam pembenahan fasilitas agar klub memiliki kandang yang layak. “Sepak bola ini bagian dari identitas kota. Harus ada keseriusan dalam pengelolaannya,” ucapnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....