Tradisi Bermukun, Irama Komunikasi Masyarakat Melayu Lintas Borneo
- 01 Okt 2026 13:52 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta — Lantunan pantun yang dinyanyikan menjadi cara masyarakat Melayu berkomunikasi dan menyampaikan pesan. Tradisi itu hidup dalam bermukun, kesenian yang diwariskan lintas generasi di kawasan Borneo.
Tradisi bermukun ini ditampilkan pada Kamis, 1 Oktober 2026 di Auditorium RRI Yogyakarta oleh para penampil dari delegasi Radio Televisyen Malaysia (RTM), Radio Televisyen Brunei (RTB), dan Radio Republik Indonesia (RRI).
Ketua delegasi Radio Televisyen Brunei (RTB) Noor Hawadah binti Ramle mengungkapkan tradisi bermukun ini lekat dengan masyarakat Melayu karena hadir dalam acara-acara sosial, seperti pernikahan, pertunangan, dan acara perjamuan lainnya.
“Selain itu, tradisi bermukun ini juga dapat menyampaikan berbagai hal secara halus dan santun. Bahkan ketika memberi nasihat atau marah, pesan tetap disampaikan melalui irama supaya tidak menyakiti orang lain,” ujarnya.
Hal serupa disampaikan oleh Ibeng, penyampai (pembawa acara) Bermukun Se-Borneo 2026 yang berasal dari Pontianak.
“Ada bentuk komunikasi yang bisa kita selipkan dalam kesenian ini, salah satunya mengenai keindahan kota. Juga ada informasi dan pesan yang bisa disampaikan,” ucapnya.
Ketua delegasi RTM Mohd Yusni bin Mohamed Ali mengungkapkan tradisi bermukun ini merupakan warisan dari nenek moyang yang berupa perpaduan nyanyian dan pantun.
“Bermukun ini merupakan warisan dari nenek moyang. Perlu ada penggendang, biola, gambus, dan penyampai-penyampai (pembaca acara) yang bisa berpantun sambil bernyanyi,” katanya.
Mohd Yusni menambahkan, bermukun juga telah menjadi bagian dari berbagai acara di Malaysia, salah satunya pernikahan. Menurutnya, bermukun memiliki nilai-nilai keindahan bahasa yang perlu dijaga. Terlebih lagi, bermukun di Indonesia, Malaysia, dan Brunei Darussalam memiliki persamaan sehingga perlu untuk dilestarikan bersama.
“Persembahan seperti ini perlu senantiasa kita lestarikan, utamanya melalui penyiaran yang memiliki peran penting untuk bisa meneruskan kepada masyarakat,” ujarnya.
Sejalan dengan itu, Noor memiliki pendapat serupa terkait bermukun.
“Ketiga negara memiliki budaya bermukun yang kurang lebih sama. Perbedaannya terletak pada irama dan bahasa, tetapi masih dapat dipahami karena ketiganya berada dalam satu rumpun budaya,” ucapnya.
Acara Bermukun Se-Borneo yang digelar di Auditorium RRI Yogyakarta disambut antusias oleh Ibeng. Menurut Ibeng, Bermukun Se-Borneo merupakan salah satu upaya untuk melestarikan tradisi karena peran dan kepedulian para pelaku budaya sangat penting untuk mempertahankan warisan di tengah perkembangan musik modern.
“Bermukun ini kita coba hidupkan lagi melalui acara-acara seperti ini. Ada juga festivalnya di Serawak tiap tahun,” ujarnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....