Pasar Beringharjo Lesu Menjelang Hari Batik Nasional

  • 01 Okt 2026 08:50 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta — Penjualan batik di Pasar Beringharjo belum menunjukkan peningkatan menjelang peringatan Hari Batik Nasional pada tanggal 2 Oktober mendatang. Sejumlah pedagang mengaku transaksi cenderung menurun dibandingkan kondisi sebelumnya.

Syarifah, pedagang batik yang telah berjualan di Pasar Beringharjo selama sekitar 30 tahun, mengatakan penjualan batik belakangan mengalami penurunan yang cukup signifikan. “Kalau sekarang merosot, menurun jauh,” ucapnya.

Menurut Syarifah, ramainya pengunjung tidak selalu berdampak pada peningkatan transaksi. Ia mencontohkan kondisi akhir pekan ketika Pasar Beringharjo ramai dikunjungi wisatawan. Namun, sebagian pengunjung hanya melihat-lihat dan tidak berakhir dengan pembelian.

“Sabtu, Minggu ramai sekali, tapi saya tidak dapat pembeli. Banyak yang tanya-tanya saja,” ujarnya.

Syarifah berharap pemerintah turut memperhatikan kondisi Pasar Beringharjo, terutama kebersihan dan kerapian lingkungan pasar. Menurutnya, kondisi pasar yang bersih dan nyaman dapat menjadi daya tarik tambahan bagi wisatawan.

Ia juga berharap pemerintah memperkuat branding Yogyakarta agar wisatawan tertarik berkunjung dan kembali ke Kota Yogyakarta. “Kalau Yogyakarta bersih, orang akan tertarik untuk kembali ke Yogyakarta lagi,” katanya.

Pedagang lainnya, Yati, juga merasakan kondisi serupa. Ia mengatakan penjualan biasanya meningkat ketika musim liburan, sementara pada hari biasa cenderung berjalan seperti biasa. “Kalau liburan ada peningkatan, tapi kalau hari biasa ya biasa-biasa saja,” katanya.

Di sisi lain, Yati menilai keberadaan batik impor turut memberikan pengaruh terhadap minat masyarakat pada batik lokal. Meski demikian, ia menyebut batik Yogyakarta tetap memiliki daya tarik tersendiri bagi pembeli.

Untuk mempertahankan minat konsumen, Yati berupaya memperhatikan tampilan batik yang dijual melalui penataan atau display. Menjelang Hari Batik Nasional, Yati berharap kegiatan Simfoni 1001 Batik yang digelar di Malioboro dapat turut menggerakkan kunjungan ke Pasar Beringharjo.

Ia berharap hasil kegiatan tersebut tidak berhenti sebagai acara, tetapi dapat dilanjutkan melalui promosi ke pasar. “Setelah mereka membatik bersama mungkin bisa diarahkan untuk berkunjung ke pasar sebagai sarana promosi,” ujarnya.

Yati menambahkan, pedagang juga membutuhkan dukungan pemerintah melalui perbaikan fasilitas serta promosi untuk memperkuat daya tarik wisata belanja di Pasar Beringharjo.

Menurut Yati dan Syarifah, pembeli batik terbanyak merupakan wisatawan dari luar daerah. Menurut keduanya, motif batik Yogyakarta masih memiliki peminat tersendiri di kalangan wisatawan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....