Disperindag Gandeng Universitas, Geliatkan Lesunya Pasar Tradisional di Sleman
- 22 Sep 2026 14:44 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Sleman – Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sleman mencatat terjadi penurunan minat masyarakat untuk berbelanja di pasar tradisional. Untuk itu, Disperindag Sleman turut menggandeng akademisi perguruan tinggi guna melakukan kajian. Hasil kajian ini digunakan sebagai landasan kebijakan untuk kembali menggeliatkan perekonomian di 32 pasar tradisional di Sleman.
Kepala Bidang Pembinaan dan Pengembangan Perdagangan Tradisional Disperindag Sleman Heronimus Heru Bharanti menjelaskan pada tahun ini pihaknya berhasil menandatangani MOU dengan Universitas Atma Jaya. Kajian turut menyasar Pasar Godean dan Pasar Sleman Unit II.
Heru menambahkan kajian ini rencananya akan dimulai pada November 2026 dan turut memanfaatkan anggaran belanja tambahan (ABT).
“Dengan ada kajian ini termasuk nanti pangsa pasarnya, sarprasnya, kemudian komoditas yang harus menjadi unggulan di masing-masing pasar itu akan menjadi pedoman kita untuk mengambil kebijakan ke depannya,” kata Heru saat ditemui di Pendopo Rumah Dinas Bupati Sleman, Selasa, 22 September 2026.
Sinergi dengan perguruan tinggi juga diimplementasikan melalui program kuliah kerja nyata (KKN). Heru menyebut kini Disperindag tengah mengampu sejumlah mahasiswa KKN yang disebar di Pasar Prambanan dan Pasar Godean. Mahasiswa KKN diarahkan untuk memberikan edukasi kepada pedagang agar bisa memaksimalkan penjualan melalui pemanfaatan teknologi. Salah satunya adalah edukasi mengenai penggunaan media sosial sebagai sarana promosi.
Heru mengatakan kebanyakan pedagang yang sudah lanjut usia menjadi tantangan terkait dengan optimalisasi penggunaan teknologi digital.
“Tidak kita pungkiri juga banyak yang sudah sepuh-sepuh. Kami bantu melalui pengelola UPT di pasar. Masing-masing pasar ada satu pegawai yang memang khusus untuk mendampingi pedagang. Mau tidak mau, suka tidak suka bahwa sekarang era teknologi. Kita tidak manfaatkan teknologi medsos, maka akan tertinggal,” ucapnya.
Sementara, Ketua Paguyuban Pedagang Pasar Godean Sri Kundari menyebut dia dan sebagian pedagang lainnya sudah memanfaatkan teknologi quick response code Indonesian standard (QRIS) sebagai metode pembayaran. Meski demikian, Kundari mengatakan QRIS baru dimanfaatkan oleh pedagang yang berusia relatif muda atau setidaknya yang memiliki kemampuan mengoperasikan teknologi.
Dia mengatakan, sejauh ini tak ada kendala berarti bagi pedagang usai menggunakan QRIS. Walau memasang QR code di lapak, tapi pedagang tetap menerima pembayaran secara tunai.
“Kalau yang di pasar itu memang ada yang pakai, ada yang tidak mau. Tapi karena yang beli itu memang banyak yang tidak pakai QRIS,” kata Sri Kundari.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....