Meneladani Surah An-Nahl Ayat 97: Jalan menuju Kehidupan yang Baik dan Menentramkan

  • 18 Sep 2026 08:50 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta - Kajian mendalam mengenai tafsir Surah An-Nahl ayat 97 menegaskan kembali pentingnya menjadi pribadi yang saleh untuk meraih hayatan tayyibah atau kehidupan yang baik. Dalam pemaparan Ustaz Aminudin Najib dalam program Mutiara Pagi Pro 1 RRI Yogyakarta, Jumat 18 September 20276 mengatakan setiap Muslim, baik laki-laki maupun perempuan, yang beramal saleh dan beriman akan dianugerahi kenikmatan hidup yang sejati oleh Allah SWT. Konsep saleh ini tidak hanya dimaknai secara harfiah sebagai kebaikan spiritual semata, tetapi juga mencakup sikap hidup yang lurus, bermanfaat, patut, serta membawa kedamaian bagi diri sendiri dan lingkungan sekitar.

“Secara bahasa, lawan kata dari shalah (kesalehan) adalah fasad atau kerusakan. Oleh karena itu, pribadi yang saleh adalah sosok yang secara aktif menghindari kerusakan dan senantiasa berbuat kebajikan. Mengutip pandangan Syekh Wahbah az-Zuhaili, menjadi orang saleh bukan berarti harus menjadi manusia yang 100 persen tanpa dosa atau tidak pernah salah. Sebaliknya, kesalehan tecermin dari komitmen seseorang untuk segera menyadari kesalahannya, beristigfar, dan konsisten (istikamah) dalam menjalan ketatan di jalan Allah SWT”. Ujarnya.

Ustaz Aminudin menuturkan, definisi hayatan tayyibah yang dijanjikan Allah SWT tidak diukur dari seberapa banyak harta atau setinggi apa jabatan yang dimiliki seseorang. Penjelasan kajian menekankan indikator kehidupan yang baik mencakup enam aspek utama: kemudahan rezeki yang halal dan berkah, kebersihan hati yang ditandai dengan sifat qana'ah, amaliah harian yang bermakna, akhlak yang mulia, hubungan sesama (muamalah) yang harmonis, serta nama baik atau kehormatan yang terjaga di tengah masyarakat.

Nilai-nilai kesalehan ini juga berkelindan erat dengan kearifan lokal masyarakat Jawa. Kajian tersebut menekankan filosofi "4R"—yaitu pinter (berilmu), bener (lurus), pener (bijak dan sesuai tempatnya), serta memper (berakhlak pantas). Prinsip ini sejalan dengan pandangan bahwa siapa pun yang menanam kebaikan akan memetik hasilnya (sapa gawe bakal ngenggo). Hal ini membuktikan bahwa ajaran Islam tentang kesalehan sangat relevan dan menyatu dengan budaya adiluhung Nusantara.

Dampak dari kesalehan seseorang rupanya tidak hanya dirasakan oleh dirinya sendiri, melainkan juga melimpah kepada keturunannya. Merujuk pada Surah Al-Kahfi ayat 82 mengenai kisah Nabi Musa dan Nabi Khidir, perlindungan terhadap dua anak yatim terjadi karena kebaikan kedua orang tuanya terdahulu (wa kana abuhuma shaliha). Tafsir Ibn Katsir dan Imam Thanthawi menguatkan bahwa keberkahan amal saleh orang tua dapat menjadi wasilah tersendiri bagi Allah SWT untuk menjaga kehidupan, keselamatan, serta harta anak-cucu mereka di kemudian hari.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....