Monumen Ngoto, Saksi Bisu Gugurnya Pahlawan Adisutjipto dan Abdulrachman Saleh

  • 10 Sep 2026 10:42 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta - Monumen Perjuangan TNI AU yang dikenal dengan nama Monumen Ngoto, terletak di Dukuh Ngoto, Kelurahan Tamanan, Kecamatan Bangun Tapan, Kabupaten Bantul. Monumen yang dibangun tanggal 1 Maret 1948 ini dibangun untuk mengenang semangat juang, pengorbanan serta kepahlawanan putra-putra di lingkungan Angkatan Udara Republik Indonesia dalam perjuangan kemerdekaan.

Putra-putra terbaik TNI AU yang gugur di tempat ini dalam penerbangan menjalankan tugas perjuangan waktu itu adalah Marsekal Muda TNI (Anumerta) Agustinus Adisutjipto, Marsekal Muda TNI (Anumerta) Prof Dr Abdulrachman Saleh, serta Opser Muda Udara I Adi Sumarno Wiryokusumo.

Kini dalam areal Monumen Perjuangan TNI AU ini, di bawah cungkup yang lebarnya 40 m2, terdapat 2 buah makam di antara para pejuang yang gugur tersebut..

Dua pahlawan bangsa yang makamnya dipindahkan dari Pemakaman Umum Kuncen I dan Kuncen II ke areal monumen ini adalah Agustinus Adisutjipto bersama isteri Ny Yosephina Rahayu Adisutjipto dan Abdulrachman Saleh beserta isteri Ny Ismudiati Abdulrachman Saleh.

Sedangkan makam AdisumarmoWiryokusumo tetap berada di Taman Makam Pahlawan (TMP) Semaki.

Di lokasi Monumen Perjuangan TNI AU (Monumen Ngoto) selain terdapat bangunan tugu dan makam yang berada dalam cungkup, juga terdapat bangunan dinding relief yang menggambarkan kegiatan penyerangan yang dilakukan pesawat-pesawat milik Angkatan Udara RI terhadap tangsi-tangsi Belanda di Semarang, Ambarawa dan Salatiga serta relief peristiwa jatuhnya pesawat Dakota yang membawa bantuan obat-obatan dari Malaya (Malaysia) karena mendapat serangan pesawat Belanda ketika akan mendarat di Pangkalan Udara Maguwo.

Pesawat Dakota yang jatuh di dekat Dukuh Ngoto, tiga km selatan kota Yogyakarta ini selain membawa obat-obatan bantuan dari Malaya (Malaysia) juga membawa penumpang yang terdiri dari Komodor Muda Udara (Kolonel) Agustinus Adisustjipto, Komodor Udara Muda (Kolonel) Prof. Dr. Abdulrachman Saleh, Opser Muda Udara I (Lettu) Adisumarmo Wiryokusumo, pilot Alexander Noel (Australia), kopilot Roy Hazelhurst (Inggeris), juru mesin Bhidaram, Zainal Arifin (Konsol Dagang RI di Malaya) dan Ny. Noel Constantine.

Semua penumpang tersebut meninggal dunia, kecuali seorang penumpang yang selamat bernama A. Gani Handoyotjokro. Nama-nama mereka yang menjadi korban jatuhnya pesawat Dakota VT-CLA karena diserang pesawat tempur Belanda tersebut diabadikan pada salah satu sisi Tugu Monumen Perjuangan TNI AU (Monumen Ngoto) tersebut.

Peristiwa gugurnya para perintis dan tokoh TNI AU dalam peristiwa ini semula diresmikan dan diperingati sebagai hari berkabung. Kemudian sejak tahun 1962 peristiwa tanggal 29 Juli 1947 tersebut ditetapkan sebagai Hari Bakti TNI AU, dan diperingati setiap tahun di Lapangan Udara Adisutjipto.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....