Urgensi Mengurangi Polusi Udara untuk Kelestarian Lingkungan

  • 10 Sep 2026 13:03 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta - Peringatan Hari Internasional Udara Bersih untuk Langit Biru (International Day of Clean Air for Blue Skies) yang diperingati setiap 7 September tahun ini menjadi pengingat pahit bagi warga dunia. Di tengah seruan global untuk mewujudkan langit biru dan udara bersih, kualitas udara masih berada pada tingkat yang membahayakan kesehatan masyarakat.

Peneliti Pusat Studi Lingkungan Universitas Sanata Dharma (USD) Yogyakarta, Hendra Michael Aquan, mengatakan beberapa hari ini, warga Jakarta, Lampung, Jawa Barat, dan sekitarnya dibayangi hadirnya abu vulkanik yang dimuntahkan Anak Krakatau dari selat Sunda.

Di lain tempat, warga di Kalimantan, Sumatra, dan melebar ke Singapura, Malaysia, serta Brunei telah berminggu-minggu terpaksa menghisap asap kebakaran hutan yang tidak terelakkan.

“Melihat fenomena ini, perlu kerja sama lintas sektor dan batas untuk menetapkan kebijakan berbasis sains guna menyediakan udara bersih dan langit biru bagi generasi sekarang dan masa depan”, katanya ketika menjadi narasumber Dialog Tanggap Bencana di RRI Yogyakarta pada Selasa, 8 September 2026.

Pada kesempatan yang sama, Hanif Kurniawan dari Yayasan Wahana Gerakan Lestari Indonesia menambahkan dalam konteks pencemaran udara, yang justru menjadi ironi dan tidak dianggap berbahaya adalah rutinitas sehari-hari, mulai dari pembakaran bahan bakar fosil yang terus berlangsung, pencemaran dan limbah industri, dan asap cerobong pabrik-pabrik yang mengotori udara.

“Pemerintah, dunia bisnis, sekolah, individu, dan masyarakat sipil semuanya dapat membuat komitmen untuk mengurangi polusi udara, dan membantu menciptakan dunia yang lebih bersih dan lebih hijau,” katanya.

Hanif menekankan kepada semua pihak akan pentingnya kesadaran masyarakat tentang tindakan untuk meningkatkan kualitas udara dan melawan polusi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....