UGM Uji Coba Rumput Gama Umami Dongkrak Produktivitas Ternak

  • 08 Sep 2026 14:46 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta - Keterbatasan ketersediaan pakan menjadi salah satu kendala yang dihadapi peternak di Kawasan Transmigrasi Muting, Kabupaten Merauke, Papua Selatan. Kondisi tersebut mendorong Tim Ekspedisi Patriot (TEP) Universitas Gadjah Mada (UGM) untuk memperkuat sektor peternakan melalui pengembangan sumber pakan yang berkelanjutan.

Salah satu upaya yang dilakukan yakni mengenalkan sekaligus menanam rumput Gama Umami sebagai sumber hijauan pakan ternak. Pengembangan rumput tersebut diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan pakan sekaligus mendukung keberlanjutan usaha peternakan masyarakat.

Gama Umami atau Pennisetum purpureum Var Gama Umami merupakan jenis rumput unggul yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber hijauan pakan ternak berkualitas. Rumput tersebut dikembangkan tim peneliti Fakultas Peternakan UGM yang diketuai Prof. Nafiatul Umami.

Gama Umami merupakan hasil mutasi rumput gajah (Pennisetum purpureum) melalui radiasi sinar gamma. Jenis rumput ini memiliki produktivitas lebih tinggi dibandingkan rumput gajah lokal dan dapat dipanen hingga enam kali dalam setahun.

Ketua TEP 1 UGM, Chandra Setyawan, bersama Tri Ariani, Khulaimi, Ilham Mubarok, Ariqonitahanif Putri Rahim, dan Fariz Jordan Fadillah, mengembangkan potensi ekonomi di Muting dengan pendekatan lintas sektor. Pengembangan tersebut mencakup pertanian, agronomi, sumber daya air, pemetaan wilayah, ekonomi, hingga peternakan.

Chandra mengatakan, peternakan menjadi salah satu potensi yang mendapat perhatian dalam pengembangan Kawasan Transmigrasi Muting. Masyarakat setempat telah lama membudidayakan ternak, terutama sapi dan ayam.

Menurutnya, potensi peternakan di wilayah tersebut cukup besar karena masih tersedia lahan yang luas dan belum dimanfaatkan secara optimal, baik untuk penggembalaan maupun pengembangan sumber hijauan pakan.

Salah satu komoditas utama yang dikembangkan adalah sapi potong. Sebagian besar peternak memelihara sapi secara individual dengan jumlah sekitar 3–4 ekor per peternak. Sapi Bali menjadi jenis yang banyak dipelihara, sementara sistem pemeliharaannya masih didominasi pola umbaran, yakni ternak dilepas untuk mencari pakan sendiri di area penggembalaan.

“Ketersediaan dan kontinuitas pakan menjadi salah satu aspek penting dalam pengembangan peternakan di Muting,” ujarnya, Selasa, 8 September 2026.

Untuk menentukan lokasi pengembangan, Tim TEP UGM melakukan penelusuran terhadap wilayah sasaran. Kampung Boewer, Distrik Elikobel, dipilih karena memiliki populasi ternak yang cukup besar serta kelompok peternak yang aktif. Kondisi tersebut dinilai mendukung wilayah tersebut sebagai lokasi percontohan pengembangan sumber pakan.

Anggota TEP 1 UGM yang berfokus pada bidang peternakan, Fariz Jordan Fadillah, mengatakan penguatan ketersediaan pakan diawali dengan penanaman rumput Gama Umami.

Penanaman dilakukan pada awal september melalui demplot atau demonstration plot. Lokasi tersebut menjadi lahan percontohan untuk memperkenalkan sekaligus memperagakan secara langsung pemanfaatan Gama Umami sebagai sumber hijauan pakan ternak kepada masyarakat.

Melalui demplot, masyarakat dapat melihat secara langsung tahapan penanaman dan pengembangan hijauan pakan. Selanjutnya, model tersebut diharapkan dapat diterapkan secara mandiri di lahan lain di sekitar kampung.

Pengembangan hijauan pakan dilakukan untuk meningkatkan ketersediaan pakan secara lebih terencana. Dengan demikian, peternak diharapkan tidak lagi sepenuhnya bergantung pada sistem penggembalaan yang selama ini diterapkan.

“Pengembangan Gama Umami tidak hanya diarahkan pada penanaman rumput, tetapi juga bagaimana pakan tersebut dapat dikelola secara berkelanjutan dan mudah dimanfaatkan oleh peternak,” ujarnya.

Demplot Gama Umami selanjutnya akan dikembangkan melalui konsep Bank Pakan Ternak. Konsep ini menjadi sistem penyediaan sekaligus penyimpanan cadangan pakan yang dapat digunakan peternak ketika ketersediaan hijauan di lapangan mengalami penurunan.

Pengembangan Bank Pakan Ternak diharapkan menjadi tahap awal untuk membangun sistem peternakan yang lebih terencana. Dengan sumber pakan yang ditanam dan dikelola secara kolektif, kelompok peternak memiliki alternatif untuk memenuhi kebutuhan pakan tanpa sepenuhnya mengandalkan rumput alami di lahan penggembalaan.

“Sumber pakan yang ditanam dan dikelola secara kolektif oleh kelompok peternak, masyarakat memiliki alternatif untuk memenuhi kebutuhan pakan ternak tanpa sepenuhnya mengandalkan ketersediaan rumput alami di lahan penggembalaan,” katanya.

Fariz mengatakan program tersebut sekaligus menjadi bagian dari penerapan konsep ekonomi hijau yang dikembangkan TEP 1 UGM di Kawasan Transmigrasi Muting.

Pengembangan peternakan tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan produksi ternak. Program tersebut juga mengintegrasikan pengelolaan lahan, air, dan pakan secara berkelanjutan sesuai prinsip pembangunan yang ramah lingkungan.

Melalui demplot Gama Umami dan konsep Bank Pakan Ternak, TEP 1 UGM berharap dapat menghadirkan model pengembangan yang sederhana, aplikatif, dan mudah diterapkan kembali secara mandiri oleh masyarakat.

“Ke depan, pendekatan ini diharapkan dapat memperkuat kemandirian pakan bagi peternak lokal, meningkatkan produktivitas peternakan di Kawasan Transmigrasi Muting, sekaligus mendukung pengembangan ekonomi masyarakat secara lebih luas dan berkelanjutan di wilayah tersebut,” ujarnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....