Mengenal “Raja Mogok” Suryopranoto, Kakak Ki Hajar Dewantara

  • 30 Agt 2026 06:06 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta - Jika nama Ki Hajar Dewantara begitu dikenal sebagai Bapak Pendidikan Nasional, tidak demikian dengan kakaknya, R.M. Suryopranoto. Padahal, Suryopranoto merupakan tokoh pergerakan yang berani memperjuangkan kepentingan rakyat dan kaum buruh hingga mendapat julukan “Raja Mogok”.

Mengapa sosok yang pernah berdiri di garis depan melawan ketidakadilan pada masa kolonial justru semakin jarang dikenal generasi hari ini?

Pertanyaan tersebut menjadi latar digelarnya BAPERS (Bincang Penerus Suryopranoto) Sesi 3 bertajuk “The Untold Story: Raja Mogok Suryopranoto, Kakak Ki Hajar Dewantara”, yang diselenggarakan oleh Forum Kerukunan Keluarga Besar Suryopranoto (FKKBS) Generasi 3.

Upaya membuka kembali kisah Suryopranoto ini mendapat respons dari berbagai daerah di Indonesia. Peserta datang dari kalangan guru, pelajar, mahasiswa, sekolah, yayasan pendidikan, komunitas, keluarga besar, hingga masyarakat umum. Bagi FKKBS, antusiasme tersebut menunjukkan bahwa sejarah masih memiliki tempat di tengah generasi masa kini ketika diceritakan melalui sisi manusia, perjuangan, dan nilai yang relevan dengan kehidupan mereka.

Poster kegiatan BAPERS (Bincang Penerus Suryopranoto) Sesi 3 bertajuk “The Untold Story: Raja Mogok Suryopranoto, Kakak Ki Hajar Dewantara”, yang diselenggarakan oleh Forum Kerukunan Keluarga Besar Suryopranoto (FKKBS) Generasi 3. (Foto: Dokumentasi. FKKBS)

Bagi Nanang Rekto Wulanjaya, cucu Ki Hajar Dewantara, akar perjuangan Suryopranoto dan Ki Hajar Dewantara tidak dapat dilepaskan dari pendidikan yang mereka terima dalam keluarga.

“Bangsa yang besar adalah bangsa yang terdidik. Dan pendidikan itu berawal dari pola asuh keluarga. Nilai-nilai yang dimiliki Suryopranoto dan Ki Hadjar Dewantara berasal dari keluarga,” kata Nanang.

Menurut Nanang, perjuangan tidak selalu membutuhkan panggung dan pengakuan. Semangat tersebut tercermin dalam prinsip yang juga diwariskan dalam nilai perjuangan mereka yaitu

“Sepi ing pamrih, rame ing gawe. Berkaryalah kamu tanpa berpikir seberapa banyak orang yang mengapresiasi.”

BAPERS bukan sekadar agenda keluarga untuk mengenang leluhur. Tiga generasi setelah perjuangan Suryopranoto, FKKBS Generasi 3 ingin memastikan namanya tidak berhenti sebagai catatan sejarah atau sekadar dikenal sebagai kakak Ki Hajar Dewantara.

Suryopranoto memiliki perjalanan perjuangannya sendiri. Ia memperjuangkan rakyat dan kaum buruh, mendirikan Adhi Dharma, serta aktif dalam gerakan buruh dan aksi mogok untuk memperjuangkan hak dan kesejahteraan pekerja.

Menurut Budiawan penulis buku Anak Bangsawan Bertukar Jalan, Suryopranoto merupakan sosok yang fenomenal pada zamannya.

“Suryopranoto merupakan pelopor dalam mendirikan sekolah vokasi yang mengajarkan keterampilan praktis, supaya rakyat Indonesia bisa mandiri,” ujar Budiawan.

Namun, yang membuat perjalanan Suryopranoto semakin menarik adalah pilihan hidupnya sebagai seorang bangsawan. Ketika banyak orang pada zamannya berusaha mendapatkan atau mempertahankan status kebangsawanan, Suryopranoto justru memilih jalan yang berbeda.

“Suryopranoto fenomenal di zamannya. Di saat banyak orang berusaha untuk mendapatkan gelar kebangsawanan, beliau justru berani meninggalkan privilege ini demi tujuan bangsa yang lebih besar,” kata Budiawan.

Kisah tersebut memperlihatkan bahwa perjuangan Suryopranoto bukan hanya tentang aksi mogok atau keberaniannya menghadapi pemerintah kolonial. Ada pilihan sadar untuk melepaskan kenyamanan dan privilege demi sesuatu yang diyakininya lebih besar, kepentingan rakyat dan bangsa.

“Bagi kami, ini bukan hanya tentang menjaga nama besar keluarga. Justru karena perjuangan Suryopranoto memiliki nilai yang lebih luas bagi bangsa, kami merasa memiliki tanggung jawab untuk membuka kembali kisah beliau kepada masyarakat Indonesia,” ujar RK Harsiki Sunaryo Suryopranoto, Dewan Penasehat FKKBS.

Melalui BAPERS, FKKBS Generasi 3 ingin mengubah warisan sejarah menjadi percakapan antar generasi, agar generasi penerus tidak hanya menjadi pewaris nama, tetapi juga penerus nilai dan semangat perjuangan.

Karena sejarah yang hanya disimpan akan menjadi arsip. Tetapi sejarah yang kembali diceritakan dapat menjadi inspirasi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....