Dua Tahun Belajar di Lapas, Nuriman Kembangkan Produksi Kain Wastra usai Bebas
- 23 Agt 2026 14:34 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Sleman – Warga binaan pemasyarakatan (WBP) di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Sleman atau Lapas Cebongan terus produktif dengan mengembangkan keterampilan selama menjalani masa penahanan. Salah satu keterampilan yang turut ditekuni oleh WBP adalah produksi kain wastra. Kain wastra merupakan kain tradisional yang dibuat secara manual dengan keterampilan tangan. Tanpa mesin pabrik massal.
Salah satu WBP Lapas Kelas IIB Sleman Nuriman menyebut dia sudah mempelajari pembuatan kain wastra sejak pertama kali mendekam di lapas, tepatnya pada 2024. Nuriman bersama 20 WBP lainnya sempat menjalani pelatihan yang didampingi oleh akademisi Fakultas Teknik UGM. Lewat pelatihan itu, dia turut mempelajari tahapan demi tahapan produksi kain wastra. Nuriman mengatakan kesulitan terletak pada proses mempelahari karakter kain dan motif. Selain itu, inspirasi untuk menciptakan motif hingga pewarnaan juga menjadi tantangan tersendiri dalam proses pembuatan kain wastra. Terlebih, kain wastra turut menggunakan sumber pewarna alami.
“Ada beberapa jenis pewarnaan, seperti pewarnaan sogan, ada merbau, joger. Beberapa warna itu belum tentu akan akan sesuai dengan apa yang diharapkan. Perlu ketekunan, kedisiplinan, dan komitmen untuk terus memperjuangkan (warna) supaya nanti hasilnya bisa sesuai,” kata Nuriman saat ditemui di Lapas Kelas IIB Sleman, Minggu, 23 Agustus 2026.
Nuriman menambahkan dia mampu memproduksi setidaknya satu lembar kain wastra setiap harinya. Durasi pembuatan kain tergantung seberapa lebar kain dan seberapa sulit serta pewarnaan yang dipilih. Beberapa motif yang biasa dipilih adalah motif jumputan, motif daun, motif dengan elemen bentuk lingkaran, hingga motif dengan tulisan 81 yang merupakan usia kemerdekaan Indonesia. Salah satu kain wastra buatan Nuriman juga bahkan digunakan sebagai salah satu seragam karyawan di lingkungan Lapas Kelas IIB Sleman. Sementara, kain wastra buatan para WBP ini turut dipasarkan melalui berbagai gelaran pameran, salah satunya pada event Jogja Fashion Week belum lama ini.
“Tahun kemarin malahan saya dengar dari salah satu bapak pembina kami itu bahkan salah satu tokoh besar di wilayah Yogyakarta ini sempat mampir dan komentar (positif) terkait produk kami,” ucapnya.
Nuriman mengaku produksi kain wastra ini bukan menjadi satu-satunya cara untuk mengembangkan keterampilan di dalam lapas. Sebelumnya, dia turut mempelajari seni ukir di atas kentongan. Nuriman mengatakan, kesenian semacam ini terbilang jauh dari kehidupan sehari-harinya sebelum masuk ke lapas. Dia mengaku, akan terus mengembangkan kemampuannya dalam memproduksi kain wastra usai bebas dari masa tahanan yang sudah dia jalani sejak 2024.
“Jalur dari proses ini yang tidak akan pernah saya lupakan sehingga kalau nanti ke depannya saya bisa kembali ke masyarakat dan keluarga, wastra ini yang bisa saya kembangkan. Di luar nanti mengembangkan dari sisi pemasarannya, pengembangan menjadi produk lain seperti (celana) kulot, kotak tisu, atau desain untuk mebel atau sofa batik,” ujar Nuriman.
Sementara, Pendamping Kegiatan Kerja Lapas Kelas IIB Sleman Sena Budi Wahyana menjelaskan setidaknya ada 7 WBP yang mengembangkan keterampilan dengan memproduksi kain wastra. Sejauh ini, produk tersedia ready stock dan dibawa ke berbagai gelaran event pameran. Sejumlah instansi juga disebut turut tertarik untuk menjadikan kain wastra buatan WBP sebagai seragam.
“Untuk awalnya memang hanya kaos saja, belum berani masuk (produksi) ke kain. Ada beberapa dinas di Kabupaten Sleman yang juga pesan seragam,” ucapnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....