TBY Hadirkan Dua Pameran, Merawat Cerita dan Ingatan Budaya

  • 18 Agt 2026 15:58 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta — Taman Budaya Yogyakarta (TBY) menghadirkan dua pameran yang mengajak publik melihat kebudayaan dari sudut pandang masa kini dan masa lalu. Keduanya yakni Rana Budaya #4 bertajuk “For Your People (FYP)” dan Pameran Arsip Seni Budaya – PUBDEKDOK “Catatan yang Tercecer”.

Rangkaian kegiatan berlangsung pada 14–23 Agustus 2026 di Taman Budaya Yogyakarta, dengan pembukaan pameran pada 14 Agustus 2026. Rana Budaya #4 “For Your People (FYP)” dan Pameran Arsip Seni Budaya – PUBDEKDOK “Catatan yang Tercecer” menjadi ruang pertemuan antara masa kini dan masa lalu untuk merawat cerita serta ingatan kebudayaan.

Kepala Taman Budaya Yogyakarta, Dra. Purwiati, mengatakan penyelenggaraan Rana Budaya tahun ini mendapat respons positif dari fotografer. Peserta tidak hanya berasal dari Yogyakarta, tetapi juga berbagai daerah di Indonesia.

“Pelaksanaan Rana Budaya tahun ini menunjukkan antusiasme fotografi yang semakin luas. Peserta tidak hanya berasal dari Yogyakarta, tetapi juga berbagai kota di Indonesia,” ujar Purwiati.

Menurutnya, perkembangan tersebut memperlihatkan fotografi semakin dekat dengan masyarakat. Fotografi tidak hanya menjadi sarana menghasilkan karya visual, tetapi juga medium untuk merekam pengalaman, kehidupan, dan persoalan yang ada di lingkungan sekitar.

Rana Budaya #4 mengangkat tema “For Your People (FYP)” yang terinspirasi dari istilah For You Page yang populer di media sosial. Namun, FYP dalam kegiatan ini dimaknai berbeda, yakni For Your People atau ajakan untuk lebih memperhatikan orang-orang dan lingkungan di sekitar.

Kurator Rana Budaya #4, Rangga Purbaya, mengatakan tema tersebut lahir dari fenomena media sosial yang membuat masyarakat terbiasa menerima informasi secara cepat.

“Tujuannya mengajak fotografer dari berbagai kalangan untuk lebih memperhatikan sekelilingnya. Memaknai sekitar,” kata Rangga.

Melalui tema tersebut, fotografer diajak berhenti sejenak dari derasnya arus informasi dan mengamati berbagai hal yang berada di dekat mereka. Keluarga, komunitas, lingkungan, pekerjaan, tradisi hingga peristiwa sehari-hari menjadi bagian dari cerita yang dapat diabadikan melalui fotografi.

Foto Seri Perkuat Cerita

Rana Budaya #4 juga memberikan kesempatan kepada peserta untuk mengirimkan karya dalam format foto seri. Dengan format ini, fotografer dapat menyampaikan cerita melalui sejumlah foto yang saling berkaitan.

Rata-rata peserta mengirimkan sekitar lima foto sehingga gagasan tidak hanya disampaikan melalui satu gambar, tetapi dapat dibangun melalui alur, suasana dan keterkaitan antarkarya.

“Suasananya berbeda dari sebelumnya karena peserta bisa lebih utuh merespons tema. Harapan kami, Jogja bisa menjadi ruang tumbuh bagi dunia foto tanah air,” ujar Rangga.

Dari proses kurasi, terpilih 35 fotografer dengan sekitar 150 karya untuk dipamerkan. Karya-karya tersebut merekam beragam sisi kehidupan, mulai dari keluarga, komunitas, pekerjaan, tradisi, ritual, lingkungan hingga aktivitas keseharian.

Dengan demikian, fotografi dalam Rana Budaya #4 tidak sekadar menghasilkan gambar, tetapi menjadi proses mengamati, mendengarkan dan memahami kehidupan di sekitar.

Seorang pengunjung menyaksikan pameran Pameran Arsip Seni Budaya – PUBDEKDOK “Catatan yang Tercecer” di Taman Budaya Yogyakarta. (Foto: RRI/Wulan Yulianita)

Arsip Membuka Kembali Jejak Masa Lalu

Sementara itu, Pameran Arsip Seni Budaya – PUBDEKDOK “Catatan yang Tercecer” menghadirkan sisi berbeda. Jika Rana Budaya merekam kehidupan melalui sudut pandang fotografer saat ini, pameran arsip mengajak masyarakat menelusuri kembali perjalanan seni dan budaya yang telah berlangsung pada masa lalu.

Sejumlah arsip yang tersimpan di Taman Budaya Yogyakarta akan ditampilkan, mulai dari kliping koran, poster, spanduk hingga dokumentasi berbagai kegiatan seni dan budaya. Material tersebut menjadi bagian dari rekam perjalanan TBY sekaligus perkembangan kehidupan kebudayaan Yogyakarta.

Kurator Pameran Arsip, Dwi Rahmanto, mengatakan sejumlah koleksi arsip, terutama periode 2000–2010, akan ditampilkan dalam pameran yang dibuka pada 14 Agustus.

“Semua arsip yang ada di TBY dari tahun 2000–2010 siap dipamerkan di ruang pameran pada 14 Agustus. Banyak ditemukan fakta sejarah terkait informasi yang valid. Bahkan kliping tentang zaman 90-an juga masih tersimpan rapi,” ujar Dwi.

Menurut Dwi, koleksi tersebut menunjukkan besarnya potensi arsip TBY sebagai sumber untuk menelusuri perjalanan kebudayaan. Kliping, poster, spanduk dan dokumentasi kegiatan bukan sekadar benda lama, tetapi menyimpan informasi mengenai peristiwa, tokoh, kegiatan dan dinamika seni budaya pada suatu masa.

Kurator lainnya, Adinda Ayu, menilai arsip yang tersimpan di TBY memiliki nilai lebih luas daripada sekadar dokumen administrasi.

“Arsip di Taman Budaya bukan soal bagaimana semestinya arsip sebagai data penunjang administrasi, melainkan di TBY terdapat arsip yang tersimpan sangat rapi dan bisa mengembalikan masa-masa kejayaan surat kabar dan koran zaman dulu,” kata Adinda.

Kehadiran arsip tersebut memungkinkan masyarakat melihat kembali suasana suatu zaman melalui material sederhana. Koran, kliping, poster dan dokumentasi menjadi jendela untuk memahami berbagai peristiwa serta kehidupan seni dan budaya yang pernah berlangsung.

Menjaga Ingatan Kebudayaan

Rana Budaya #4 dan Pameran Arsip “Catatan yang Tercecer” memiliki pendekatan berbeda, tetapi bertemu pada satu gagasan, yakni bagaimana kehidupan dan kebudayaan direkam serta diwariskan.

Fotografi menangkap momen yang sedang berlangsung, sementara arsip menyimpan jejak dari peristiwa yang telah berlalu. Keduanya menjadi cara untuk menjaga cerita agar tidak hilang ditelan waktu.

Melalui tema For Your People, Rana Budaya #4 mengajak masyarakat lebih dekat dengan orang-orang dan lingkungan di sekitarnya. Sementara “Catatan yang Tercecer” mengajak publik membuka kembali dokumentasi yang tersimpan dan membaca perjalanan kebudayaan melalui arsip.

Kedua kegiatan tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa kebudayaan tidak hanya hadir melalui pertunjukan dan karya seni. Kebudayaan juga hidup dalam ingatan, dokumentasi, cerita manusia dan berbagai benda yang ditinggalkan sebuah zaman.

Melalui dua pameran ini, TBY membuka ruang apresiasi sekaligus pembelajaran bagi masyarakat. Karya fotografi yang dihasilkan hari ini pada akhirnya dapat menjadi arsip di masa mendatang, sebagaimana dokumentasi masa lalu kini menjadi sumber pengetahuan bagi generasi sekarang.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....