Ribuan Anak di Sleman Alami Gangguan Kesehatan Jiwa, Dinkes Kuatkan Skrining

  • 19 Agt 2026 04:35 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Sleman – Dinas Kesehatan (Dinkes) Sleman mencatat tingginya jumlah kasus gangguan kesehatan jiwa pada anak. Berdasarkan data skrining kesehatan jiwa yang dilakukan pada 18.845 anak di Sleman, sebanyak 5,6 persen diantaranya menunjukan gejala depresi ringan. Sementara, 5,25 persen menunjukan gejala kecemasan ringan dan 2 persen menunjukan gejala kecemasan berat. Skrining kesehatan ini merupakan upaya untuk penguatan deteksi dini kesehatan jiwa ke seluruh siklus hidup, termasuk usia remaja.

Kabid Kesehatan Masyarakat Dinkes Sleman Seruni Angreni Susila menuturkan skrining kesehatan dilakukan dengan metode strengths and difficulties questionnaire (SDQ) berupa 15 daftar pertanyaan yang ditetapkan menjadi standar nasional Kementerian Kesehatan. Jika ditemui adanya indikasi gangguan kesehatan jiwa, maka tim kesehatan jiwa seperti psikolog, dokter, hingga perawat kesehatan jiwa akan menggali lebih dalam serta melakukan tindak lanjut. Selain menggunakan metode SDQ, pihaknya juga menggunakan alat heart rate variability (HRV). Alat ini akan mendeteksi kondisi saraf simpatis dan saraf parasimpatif hingga sampai pada kesimpulan untuk bertemu dengan psikolog.

“Kami oleh instruksi Bapak Bupati juga kita harus menguatkan skrining kesehatan mental ini,” kata Seruni saat ditemui di Sleman, Selasa, 18 Agustus 2026.

Seruni mencatat ada sejumlah penyebab banyak anak muda yang mengalami gangguan kesehatan jiwa. Salah satunya berkaitan dengan derasnya informasi yang beredar melalui internet dan sosial media. Hal ini mengakibatkan anak mudah terdistraksi dan mengganggu sisi emosional. Di sisi lain, Seruni mendorong masyarakat untuk tidak mencari informasi melalui sumber yang tidak kredibel. Masyarakat juga diimbau untuk tidak menelan mentah-mentah informasi yang didapatkan melalui aplikasi kecerdasan buatan. Tak hanya itu, pihaknya juga turut mendorong adanya penguatan peran pengawasan orang tua.

“Mohon sesekali orang tua mengecek seperti apa media sosial yang diungakan anak-anak kita. Di Kabupaten Sleman sudah ada inovasi juga yang diusung oleh DP3AP2KB berupa GASA atau Gerakan Ayah Sayang Anak. Kami harapkan ayah berperan aktif sekarang untuk terlibat berkomunikasi kepada anaknya terutama usia remaja sehingga anak-anak pun mau curhat tidak ke media sosial tetapi ke orang tuanya terlebih dahulu,” ujar Seruni.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....