AI Jadi Pengungkit Riset, UGM Perluas Kolaborasi Global

  • 29 Jul 2026 20:04 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta - Pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) semakin mengubah berbagai aspek kehidupan, termasuk dunia pendidikan tinggi. Di lingkungan akademik, teknologi ini dimanfaatkan untuk mendukung pencarian referensi, penyusunan gagasan penelitian, hingga mempercepat proses riset dan pembelajaran.

Universitas Gadjah Mada (UGM) pun terus memperkuat pengembangan ekosistem AI melalui kolaborasi dengan berbagai mitra strategis serta penguatan kapasitas riset lintas disiplin. Kepala Biro Transformasi Digital UGM, Dr Mardhani Riasetiawan, mengatakan langkah tersebut menjadi bagian dari strategi kampus dalam mendorong inovasi sekaligus menjawab kebutuhan transformasi digital di perguruan tinggi.

"Tahun lalu kami berhasil mencapai salah satu milestone, yaitu peluncuran UGM AI Center of Excellence. Kemudian kami juga memperoleh kesempatan yang sangat berharga untuk menjalin kolaborasi dengan Indosat Ooredoo Hutchison," ujar Mardhani dalam seminar UGM AI bertajuk "Riset dengan Artificial Intelligence (AI)" yang digelar di Ruang Multimedia Lantai 3 Gedung Pusat UGM, Senin, 27 Juli 2026.

Mardhani menjelaskan, tim dari Indosat dan NVIDIA telah beberapa kali melakukan site visit dan evaluasi di UGM sebelum kampus tersebut dinyatakan memenuhi syarat untuk bergabung dalam jaringan NVIDIA AI Technology Center (NVAITC). Menurutnya, kemitraan ini akan memperkuat kapasitas penelitian AI melalui dukungan sumber daya komputasi yang lebih besar.

"Persoalan terbesar dalam pengembangan AI selama ini memang terletak pada keterbatasan sumber daya komputasi. Melalui kerja sama ini, mudah-mudahan para peneliti UGM dapat memanfaatkan kapasitas komputasi dalam skala yang jauh lebih besar dibandingkan sebelumnya," ujarnya.

Selain memperluas kerja sama dengan sektor industri, UGM juga menyiapkan sejumlah program untuk memperkokoh ekosistem AI di lingkungan kampus. Salah satunya melalui Artificial Intelligence Talent Factory (AITF) yang dirancang sebagai program pengembangan selama tiga tahun, serta pembentukan jejaring Faculty Member UGM AI yang melibatkan akademisi dari berbagai fakultas.

"Yang paling kami dorong dalam kerja sama dengan NVIDIA adalah kekuatan utama UGM sebagai universitas multidisiplin. Pendekatan yang kami bangun tidak hanya berfokus pada aspek teknis, tetapi juga melibatkan berbagai disiplin ilmu lainnya seperti sosial humaniora,” ujarnya.

Menurut Mardhani, jejaring tersebut diharapkan menjadi ruang kolaborasi bagi para peneliti lintas bidang dalam mengembangkan riset AI. Ke depan, UGM AI juga diarahkan menjadi pusat riset yang mampu mengelola pendanaan penelitian, menyediakan program beasiswa, merekrut mahasiswa magister dan doktor, serta memperluas kemitraan internasional.

"Kami ingin membangun ekosistem ini secara bersama-sama. Karena pada akhirnya, tidak ada keberhasilan besar yang dapat dicapai sendirian,” katanya.

Dalam sesi diskusi, Dosen Fakultas Hukum UGM, Rimawati, menjelaskan AI membuka peluang baru dalam penelitian hukum, terutama untuk menelusuri regulasi, putusan pengadilan, hingga menyusun matriks analisis. Teknologi tersebut dinilai mampu memangkas waktu yang sebelumnya dibutuhkan berhari-hari bahkan berminggu-minggu menjadi hanya beberapa jam.

"Dengan bantuan AI, proses penelusuran tersebut menjadi jauh lebih efisien. Dahulu pekerjaan tersebut dapat memakan waktu hingga satu bulan, sekarang proses yang sama dapat diselesaikan hanya dalam beberapa jam," ujar Rimawati.

Meski demikian, ia menegaskan AI hanya berperan sebagai alat bantu. Proses analisis, penafsiran norma, hingga penyusunan argumentasi hukum tetap menjadi tanggung jawab peneliti. Karena itu, seluruh informasi yang dihasilkan AI harus diverifikasi dengan membandingkannya terhadap peraturan perundang-undangan maupun putusan pengadilan sebagai sumber utama agar kualitas dan integritas akademik tetap terjaga.

Pandangan serupa disampaikan Guru Besar Fakultas Teknik UGM, Prof. Dr. Ir. Ferian Anggara. Ia menjelaskan pemanfaatan AI dan machine learning telah membantu meningkatkan efisiensi penelitian, khususnya dalam eksplorasi sumber daya mineral dan energi.

Menurutnya, teknologi tersebut memungkinkan pengolahan data dalam jumlah besar untuk mengidentifikasi potensi sumber daya secara lebih cepat dan akurat, sehingga waktu maupun biaya penelitian dapat ditekan.

“Pemanfaatan artificial intelligence maupun machine learning yang kami lakukan tujuannya untuk mendukung efisiensi proses kerja. Ketika proses kerja menjadi lebih efisien, setidaknya ada dua manfaat yang kita dapatkan, yakni penghematan waktu dan penghematan biaya," ujar dosen Departemen Teknik Geologi UGM tersebut.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....