Ajaran 'Kawruh Jiwa' Ki Ageng Suryomentaram untuk Menata Peradaban Modern

  • 27 Jul 2026 13:30 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta - Gemerlap peradaban modern yang ditandai oleh pesatnya perkembangan teknologi dan media sosial, ternyata tidak serta merta membawa kedamaian hakiki bagi jiwa manusia. Di balik kemewahan materi dan kemudahan fasilitas digital, masyarakat modern justru dinilai semakin rentan mengalami krisis kejiwaan, kegelisahan batin, dan kehilangan arah hidup.

Hal ini diperbincangkan dalam dialog interaktif Pendopo PRO 4 RRI Yogyakarta, dengan tema Manusia yang Kehilangan Jiwa: Belajar Kawruh Jiwa dari Ki Ageng Suryo Mentaram, Sigit Triana, S.Pd., M.M. anggota Dewan Budaya Sleman sekaligus ketua Forum Budaya Ngaglik mengatakan tentang paradoks kehidupan modern. Menurutnya, meskipun tatanan peradaban saat ini tampak begitu sejahtera dan terhubungkan secara digital, pola interaksi antarmanusia justru memperlihatkan kekeruhan emosional.

“Di berbagai platform, terjadi perang urat saraf, aksi saling menghina dan menghujat hanya demi mencari pengakuan sosial dan gengsi semata," ujar Sigit.

Ia menyebut fenomena mengejar ego dan validasi publik ini telah mengikis nilai-nilai kemanusiaan dasar serta kepribadian luhur, khususnya nilai-nilai kejawaan dan keindonesiaan yang sejatinya mengajarkan kesederhanaan dan kedamaian rasa.

Ia menegaskan ajaran Ki Ageng Suryomentaram sangat relevan dan terasa pada kondisi masyarakat masa kini. Teknologi canggih dan arus informasi yang cepat, sering tidak diimbangi dengan kematangan batin. Akibatnya, banyak individu terjebak dalam perangkap pamer kekayaan, sombong jabatan, serta pencitraan berlebihan di hadapan publik dan media.

Sementara itu sastrawan dan budayawan Drs. Ki Anton Eknathon, M.Hum. menyampaikan tentang relevansi konsep pemikiran Ki Ageng Suryo Mentaram yang memutuskan meninggalkan kenikmatan dan fasilitas istana demi mendalami hakikat hidup rakyat jelata dan menata jiwa. Dengan menggunakan metode spiritual Ki Ageng Suryo Mentaram, mengamati, memahami, dan membebaskan jiwa manusia dari ikatan rasa khawatir (sumelang), kebingungan, dan prasangka.

"Beliau melihat kehidupan yang nyata dengan impresinya sendiri, merasa terpanggil oleh indahnya kehidupan yang sebenarnya. Beliau berjualan batik secara sederhana."ujar Anton.

Menurut Anton Untuk menjaga kebebasan batinnya, Ki Ageng Suryo Mentaram berpindah tempat dari tempat yang satu ke tempat yang lain. Dari proses laku hidup inilah, lahir gagasan-gagasan besar mengenai kejiwaan manusia yang kelak dikenal sebagai Kawruh Jiwa yakni Ilmu Ketentraman Jiwa.

Selain itu Ki Ageng Suryomentaram juga menawarkan formula spiritual yang dikenal dengan sebutan Sutedayang yakni suci , tenang dan damai serta kasih sayang. Konsep ini menekankan pentingnya proses penyucian diri secara menyeluruh untuk mencapai ketenangan hidup.

Baik Sigit maupun Ki Anton mengatakan Penerapan ajaran Sutedayang dan Kawruh Jiwa di lembaga pendidikan, keluarga, dan masyarakat luas diyakini dapat membentuk manusia-manusia yang utuh secara lahir dan batin. Untuk itu, kedua narasumber mengajak masyarakat untuk menumbuhkan kembali nilai empati nyata di atas sekadar simpati. Melalui ajaran Ki Ageng Suryomentaram, masyarakat diajak untuk kembali mengenali diri sendiri, mengendalikan ambisi, dan meraih kebebasan batin demi terciptanya kebahagiaan yang sejati.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....