Inovasi Wedang Pegagan Kencur Hitam untuk Saraf Mata

  • 27 Jul 2026 13:10 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta - Kolaborasi antara Departemen Ilmu Mata Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) Universitas Gadjah Mada (UGM) bersama Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (BAPPEDA) Kota Yogyakarta terus menghadirkan inovasi yang mengintegrasikan kesehatan, pemberdayaan masyarakat, dan pengembangan ekonomi lokal. Salah satu upaya tersebut diwujudkan melalui penyelenggaraan Focus Group Discussion (FGD) penelitian tematis bertajuk “WEDANG SAHAJA: Formulasi Daun Pegagan dan Kencur Hitam sebagai Suplemen Pasien Saraf Mata melalui Pemberdayaan UMKM dan Komunitas Difabel di Kota Yogyakarta”, yang diselenggarakan pada Rabu, 22 Juli 2026 di Mal Pelayanan Publik (MPP) Pemerintah Kota Yogyakarta.

Kegiatan dibuka oleh Bintang Prasojo, S.E., M.Ec.Dev., mewakili BAPPEDA Kota Yogyakarta. Dalam sambutannya, ia menyampaikan apresiasi kepada seluruh peserta yang hadir serta menegaskan bahwa penelitian ini merupakan bagian dari kegiatan Penelitian dan Pengembangan Bidang Sosial dan Kependudukan, dengan harapan forum diskusi ini dapat menghasilkan berbagai masukan yang memperkaya hasil penelitian sekaligus memberikan kontribusi bagi penyusunan kebijakan pembangunan daerah.

dr. Indra Tri Mahayana, Ph.D., Sp.M., FRSPH, sebagai wakil dari tim peneliti menjelaskan bahwa penelitian ini berangkat dari potensi besar tanaman herbal lokal yang dipadukan dengan pembuktian ilmiah. Menurutnya, kombinasi kencur hitam dan daun pegagan memiliki potensi sebagai terapi pendamping (adjuvant therapy) bagi penderita neuritis optik berdasarkan hasil penelitian sebelumnya. “Selain memiliki manfaat kesehatan, kencur hitam juga merupakan salah satu tanaman herbal khas Daerah Istimewa Yogyakarta yang berpotensi dikembangkan menjadi produk unggulan daerah dengan nilai tambah ekonomi,’’ katanya.

Sementara itu, dr. Muhammad Taufiq Hidayat dari Departemen Ilmu Kesehatan Mata FK-KMK UGM memaparkan mengenai neuritis optik, yaitu peradangan pada saraf optik yang dapat menyebabkan gangguan penglihatan, seperti penurunan tajam penglihatan, nyeri saat menggerakkan bola mata, dan gangguan persepsi warna. Beliau menjelaskan bahwa terapi utama neuritis optik akut masih berupa pemberian kortikosteroid dosis tinggi. Namun demikian, penelitian terus dikembangkan untuk menemukan terapi pendamping yang mampu memberikan efek neuroprotektif. “Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi kencur hitam dan daun pegagan berpotensi memberikan manfaat yang sebanding dengan vitamin B12 dalam membantu mempertahankan fungsi penglihatan pada pasien neuritis optik akut,” ujarnya.

Paparan Inovasi Bidang Ekonomi: SNI G2R Tetrapreneur

Dalam kegiatan ini, Rika Fatimah P.L., S.T., M.Sc., Ph.D., selaku founder, konseptor, dan Tenaga Ahli Global Gotong Royong (G2R) Tetrapreneur sekaligus dosen Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM serta Wakil Ketua Komite Teknis 03 – 13 untuk SNI G2R Tetrapreneur, juga menjelaskan tentang G2R Tetrapreneur. Program ini merupakan pemberdayaan dan penguatan masyarakat berbasis Ekonomi Pancasila yang terdiri atas empat pilar, yaitu Tetra 1 – Rantai Wirausaha, Tetra 2 – Pasar Wirausaha, Tetra 3 – Kualitas Wirausaha, dan Tetra 4 – Merek Wirausaha. G2R Tetrapreneur mengintegrasikan pengembangan usaha dari hulu hingga hilir melalui semangat gotong royong sehingga mampu membangun ekosistem wirausaha yang berwibawa, berkemandirian dan berkelanjutan.

Dalam paparannya, ia menekankan pentingnya bergeraknya wirausaha bukan hanya memikirkan usahanya sendiri namun peka dan cerdas terhadap ekosistem sebagai ‘tempat’ berwirausaha itu sendiri. “Mejadi wirausaha itu harus peduli dengan ekosistem berwirausahanya, keberhasilan sebuah usaha tidak hanya ditentukan oleh besarnya omzet namun pada konsep rezeki, harus yakin rezeki melalui kemampuan membangun keunikan produk, menjaga kesejahteraan para pelaku usaha, serta menghadirkan inovasi yang memberikan manfaat bagi masyarakat,’’ ujarnya.

Pada kesempatan tersebut juga, Rika juga menyampaikan bahwa salah satu visi besar G2R Tetrapreneur adalah menerjemahkan nilai gotong royong yang selama ini bersifat abstrak menjadi kekuatan ekonomi yang nyata. Dalam implementasinya, G2R Tetrapreneur juga mengedukasi pasar dalam setiap kesempatan agar lebih menghargai produk-produk lokal yang dihasilkan UMKM.

Produk lokal dipandang memiliki karakteristik dan kapasitas produksi yang berbeda dengan industri bermodal besar, sehingga memerlukan ekosistem pasar yang mendukung pertumbuhan dan keberlanjutannya dan bukan ‘menyamakannya’ dengan produk pabrikan. Melalui penelitian WEDANG SAHAJA, pengembangan produk herbal tidak hanya diarahkan sebagai inovasi kesehatan berbasis bukti ilmiah (evidence-based herbal product), tetapi juga sebagai instrumen pemberdayaan ekonomi masyarakat. Pendekatan ini diharapkan mampu menciptakan rantai nilai yang memberikan manfaat bagi petani, UMKM, komunitas difabel, akademisi, pemerintah, hingga konsumen, sekaligus memperkuat posisi produk herbal lokal sebagai bagian dari pengembangan ekonomi kreatif dan wellness berbasis potensi daerah.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....